Strategi Digital: Mengabadikan Memori Diaspora Bugis di Era Artificial Intellegence

banner 300300

Makassar – Memori kolektif diaspora Bugis yang tersebar di seluruh Dunia Melayu kini menghadapi tantangan serius akibat arus globalisasi dan dominasi budaya digital.

Untuk menjaga agar bahasa, tradisi lisan, dan nilai-nilai budaya tetap lestari, pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui perpustakaan digital dinilai menjadi solusi strategis bagi generasi mendatang.

banner 500350

​Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, dalam kajian terbarunya yang menyoroti pentingnya menjembatani tradisi leluhur dengan teknologi modern.

​Ancaman di Balik Modernitas

​Diaspora Bugis telah lama dikenal dengan tradisi massompek (merantau) dan kemampuan adaptasi yang tinggi di berbagai wilayah, mulai dari Semenanjung Melayu hingga Singapura. Namun, Prof. Andi Ima mencatat adanya pergeseran budaya yang mengkhawatirkan.

​”Tradisi lisan yang dahulu diwariskan dari kakek-nenek ke cucu, seperti petuah (pappaseng), lagu pengantar tidur (elong), dan penggunaan bahasa daerah, kini mulai memudar. Generasi muda diaspora cenderung lebih terpapar pada budaya global, sehingga memori kolektif kita berpotensi hilang secara perlahan,” ujar Prof. Andi Ima.

AI Penjaga Warisan

​Penelitian tersebut menawarkan konsep perpustakaan digital berbasis AI sebagai “ruang memori kolektif” yang interaktif. Berbeda dengan perpustakaan konvensional, sistem ini mampu melakukan lebih dari sekadar penyimpanan data.

Teknologi AI yang diusulkan

​Pencarian Semantik: Memungkinkan pengguna mencari informasi budaya berdasarkan makna dan konteks, bukan sekadar kata kunci.

​Penerjemahan & Pengenalan Suara: Memfasilitasi revitalisasi bahasa Bugis melalui machine translation dan speech recognition untuk mendokumentasikan tutur kata dari penutur asli.

​Chatbot Budaya: Sistem interaktif yang mampu menjawab pertanyaan seputar sejarah, nilai siri’ na pacce, hingga pembelajaran aksara lontara bagi generasi milenial dan Gen Z.

Budaya sebagai Aset Hidup

​Prof Andi Ima menegaskan bahwa digitalisasi bukan berarti menjadikan budaya sekadar artefak masa lalu. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai seperti siri’ na pacce (kehormatan dan solidaritas) agar tetap relevan dalam ekosistem digital.

​”Teknologi AI bukan ancaman, melainkan medium baru. Kita perlu berkolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas diaspora untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan. Jika kita tidak mendokumentasikan ini sekarang, kita berisiko kehilangan identitas yang telah dibangun selama berabad-abad,” tambahnya.

​Langkah ini diharapkan menjadi cetak biru bagi komunitas diaspora lainnya dalam menjaga warisan budaya takbenda di tengah pesatnya perubahan zaman.

Dengan perpustakaan digital yang terintegrasi, identitas Bugis tidak lagi dibatasi oleh sekat geografis, namun dapat diakses kapan saja oleh siapa pun di seluruh Dunia Melayu.

banner 500350

Tinggalkan Balasan