3 Guru Besar UNM Ambil Bagian dalam Simposium Internasional AI dan Kebudayaan di Malaysia

banner 300300

Jakarta – Kehadiran tiga Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Simposium Antarabangsa Kepustakaan, Terjemahan dan Kecerdasan Buatan (LiTr.AI) 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi akademik dan pertukaran gagasan di tingkat internasional. Ketiga Guru Besar tersebut, yakni Prof. Dr. Hj. Hasmyati, M.Kes., Prof. Dr. Risma Niswaty, dan Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, menghadiri undangan simposium yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 3–4 Juni 2026.

Simposium yang mengangkat tema besar tentang keberadaan ilmu, bahasa, dan budaya di era kecerdasan buatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pustakawan, budayawan dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan peluang dan tantangan transformasi digital dalam bidang pendidikan, kepustakaan, penerjemahan, dan pelestarian budaya.

banner 500350

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, delegasi UNM berkesempatan mengikuti forum-forum ilmiah internasional serta menghadiri sesi pembukaan yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan Malaysia, YB Fadhlina Sidek.

Mereka juga menjalin komunikasi akademik dengan pimpinan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang diwakili oleh Pemangku Naib Canselor (Plh Rektor) UTM, Prof. Ts. Dr. Ali bin Selamat, sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama akademik dan penelitian antara perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah keterlibatan Prof. Hasmyati sebagai pembicara pada Sidang 4 yang berlangsung pada hari kedua simposium.

Dalam forum tersebut, ia membawakan makalah berjudul “Olahraga Rakyat Dalam Pelestarian Cikal Bakal Budaya di Era AI”, yang mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendokumentasikan, menganalisis, dan melestarikan olahraga rakyat sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat.

Menurut Hasmyati, olahraga rakyat tidak hanya memiliki nilai rekreasi, tetapi juga menyimpan identitas budaya, nilai kebersamaan, filosofi hidup, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Oleh karena itu, perkembangan teknologi AI perlu dimanfaatkan untuk memperkuat upaya pelestarian budaya melalui dokumentasi digital, pengembangan arsip budaya, visualisasi interaktif, hingga penyebarluasan pengetahuan budaya kepada generasi muda.

Kehadiran ketiga Guru Besar UNM dalam forum internasional ini mencerminkan komitmen sivitas akademika UNM untuk terus berkontribusi dalam pertukaran ilmu pengetahuan dan pengembangan jejaring akademik global.

Selain menjadi ruang berbagi gagasan dan hasil penelitian, forum ini juga membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam bidang pendidikan, kebudayaan, literasi, dan transformasi digital.

Partisipasi tersebut diharapkan semakin memperkuat peran UNM dalam menghasilkan karya-karya akademik yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat regional maupun internasional.

banner 500350

Tinggalkan Balasan