Kuala Lumpur – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh membuat masyarakat melupakan olahraga tradisional yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya bangsa.
Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memastikan warisan budaya tersebut tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Pandangan itu disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Hj. Hasmyati, saat menjadi narasumber dalam kegiatan International Talk Universitas Negeri Makassar bertajuk “Sukan Tradisional di Era Digital” yang berlangsung di Paviliun MAPIM, Dewan Tun Dr. Ismail, Malaysia, Sabtu (06/6).
Menurut Hasmyati, olahraga tradisional memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar aktivitas fisik. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, sportivitas, gotong royong, kepemimpinan, hingga pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Olahraga tradisional adalah bagian dari identitas budaya masyarakat. Jika generasi muda tidak lagi mengenalnya, maka yang hilang bukan hanya permainannya, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Hasmyati.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga relevansi olahraga tradisional di tengah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi digital. Karena itu, pendekatan pelestarian juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Hasmyati menilai digitalisasi dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya. Dokumentasi audiovisual, arsip digital, media pembelajaran interaktif, hingga pemanfaatan AI dapat membantu memperkenalkan kembali olahraga tradisional kepada generasi muda dengan cara yang lebih menarik.
Menurut dia, teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi budaya lokal. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat proses dokumentasi, edukasi, dan promosi budaya secara lebih luas.
“Generasi muda hidup dalam lingkungan digital. Karena itu, pelestarian budaya juga perlu hadir di ruang yang mereka gunakan setiap hari,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Hasmyati juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan olahraga tradisional.
Upaya pelestarian, menurutnya, tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembangunan karakter masyarakat.
Ia mencontohkan sejumlah olahraga rakyat di berbagai daerah Indonesia yang menyimpan nilai-nilai budaya dan sosial yang relevan hingga saat ini.
Namun tanpa dokumentasi dan regenerasi yang baik, banyak di antaranya berisiko semakin terpinggirkan.
Karena itu, Hasmyati mendorong agar pemanfaatan teknologi digital tidak hanya diarahkan pada pengembangan industri dan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian kekayaan budaya bangsa.
“Teknologi harus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dengan cara itu, olahraga tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat berkembang dan dikenal lebih luas oleh masyarakat dunia,” tuturnya.
Kegiatan International Talk tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda akademik dan budaya yang berlangsung di Malaysia serta dihadiri peserta dari berbagai kalangan akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat umum.
Forum ini menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana budaya lokal dapat tetap relevan di tengah transformasi digital yang terus berkembang.








