Guru Besar UNM Prof Hasmyati Bicara Masa Depan Olahraga Rakyat di Forum Akademik Global di Malaysia

banner 300300

Kuala Lumpur – Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Hj. Hasmyati, menjadi salah satu pembicara dalam Sidang 4 Simposium Antarabangsa Kepustakaan, Terjemahan dan Kecerdasan Buatan (LiTr.AI) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kehadirannya pada forum akademik internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan perspektif olahraga dan budaya Indonesia dalam diskusi global mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

banner 500350

Sidang yang mengangkat tema “Inovasi Penerbitan dan Ilmu dalam Ekosistem Kecerdasan Buatan (AI)” tersebut menghadirkan akademisi dari berbagai negara. Prof. Hasmyati berbicara bersama Dr. Najamuddin dari Universitas Negeri Makassar, Dr. Suraiya Chapakiya dari Universiti Fatoni Thailand, serta Prof. Madya Dr. Mohd Adham bin Isa dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Dalam presentasinya yang berjudul “Olahraga Rakyat Dalam Pelestarian Cikal Bakal Budaya di Era AI,” Prof. Hasmyati menyoroti pentingnya olahraga rakyat sebagai bagian dari identitas budaya yang tidak hanya memiliki nilai rekreatif, tetapi juga mengandung nilai sejarah, pendidikan, kebersamaan, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi keberlangsungan olahraga rakyat di berbagai daerah. Jika tidak didokumentasikan dan diperkenalkan secara sistematis, banyak olahraga tradisional berpotensi kehilangan peminat dan perlahan terlupakan oleh generasi muda.

Sebaliknya, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses dokumentasi, pengarsipan, analisis gerak, visualisasi digital, hingga pengembangan media edukasi yang lebih menarik dan mudah diakses.

“Olahraga rakyat bukan sekadar permainan tradisional. Di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya, filosofi hidup, dan identitas masyarakat yang perlu dijaga keberlanjutannya. AI dapat menjadi sarana untuk memperkuat upaya pelestarian tersebut,” ujar Hasmyati dalam paparannya.

Dalam kajiannya, Hasmyati mengangkat sejumlah olahraga rakyat Bugis-Makassar sebagai contoh implementasi, termasuk tradisi Mappadendang, yang dapat didokumentasikan dan dipromosikan melalui teknologi digital.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya serta meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai lokal.

Diskusi yang berlangsung dalam Sidang 4 menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memiliki ruang pemanfaatan yang luas, mulai dari bidang bahasa, penerjemahan, nilai-nilai sosial keagamaan, hingga pelestarian budaya dan olahraga tradisional.

Pertemuan para akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand tersebut juga menghasilkan pertukaran gagasan mengenai bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk mendukung pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan.

Partisipasi Prof. Hasmyati dalam forum internasional ini mencerminkan kontribusi akademisi UNM dalam mengembangkan kajian olahraga yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan dan prestasi, tetapi juga pada pelestarian budaya dan penguatan identitas masyarakat. Melalui forum ini, olahraga rakyat Indonesia diperkenalkan sebagai bagian dari warisan budaya yang relevan untuk dikembangkan di era transformasi digital.

Sebagai penutup sesi, panitia LiTr.AI 2026 memberikan penghargaan kepada seluruh panelis sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi ilmiah yang telah diberikan dalam memperkaya diskusi internasional mengenai masa depan ilmu pengetahuan, budaya, dan kecerdasan buatan.

banner 500350

Tinggalkan Balasan