Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi memulai proses panjang pemilihan Rektor untuk periode 2026–2030, yang ditandai dengan peluncuran dan sosialisasi tata cara pemilihan di Arsjad Rasjid Lecture Theaters, Senin (04/8).
Ketua Panitia Pemilihan, Prof Dr drg Hasanuddin Tahir, menyampaikan bahwa seluruh tahapan—dari penjaringan hingga pelantikan—akan dijalankan secara terbuka dan bertanggung jawab.
Ia berharap proses ini melahirkan pemimpin terbaik yang mampu menjawab tantangan Unhas ke depan.
“Mulai hari ini, kita membuka proses penjaringan. Targetnya, pelantikan rektor baru akan digelar paling lambat April 2026,” ucap Hasanuddin.
Ia juga menekankan antusiasme sivitas akademika, dengan lebih dari 500 peserta hadir secara langsung maupun daring dalam acara launching tersebut.
Pendaftaran resmi bakal calon rektor dijadwalkan berlangsung pada 11 Agustus hingga 1 September 2025. Jika jumlah pendaftar belum mencapai lima orang, masa pendaftaran akan diperpanjang sepuluh hari.
“Kalau pun nanti masih di bawah lima, misalnya hanya tiga atau empat pendaftar, kita tetap lanjutkan dengan pemeriksaan administrasi,” jelas Ketua Tim Penyusunan Peraturan Senat Akademik, Prof Nasaruddin Salam.
Menurut Nasaruddin, tidak ada batasan maksimal jumlah peserta. “Yang pernah terjadi sebelumnya, jumlah pendaftar paling banyak sampai delapan orang,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Penyusun Peraturan Majelis Wali Amanat (MWA), Prof Andi Niartiningsih, menjabarkan ada 19 kriteria yang wajib dipenuhi oleh calon rektor, sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 Statuta Unhas.
Sementara itu, Ketua MWA Unhas Prof Dr Andi Alimuddin Unde, memberikan arahan agar panitia tetap menjunjung integritas dan keadilan selama proses berlangsung.
“Kita butuh pemimpin yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga punya integritas dan visi global. Kampus ini harus dipimpin oleh orang yang mampu membawa Unhas ke panggung dunia,” tegas Alimuddin.
Ia juga berpesan agar pemilihan rektor tak berubah menjadi ajang popularitas. “Ini bukan soal siapa yang dikenal banyak orang, tapi siapa yang paling layak memimpin. Semua calon harus diberi kesempatan yang setara.”
Peluncuran ini bukan hanya membuka babak baru dalam demokrasi kampus, tapi juga menjadi sinyal awal akan hadirnya sosok baru yang akan menakhodai Unhas dalam lima tahun mendatang.
Sebuah proses yang tak sekadar memilih rektor, tapi menata arah kontribusi Unhas dalam membangun bangsa.







