Makassar – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar menggelar diskusi publik dengan tema ‘Coffee Demokrasi’ yang berlangsung di Warkop Dg Anas Faisal, Kecamatan Rappocini, Makassar.
Adapun salah satu narasumbernya yakni Hasruddin Husain, Koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat Pemilih KPU Provinsi Sulawesi Selatan.
KPU Sulawesi Selatan (Sulsel) menargetkan angka partisipasi pemilih mencapai 80 persen di Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024. Angka itu naik 10 persen dari Pilgub Sulsel 2018 sebesar 69,52 persen dari 4.294.746 pemilih
Hasruddin menjelaskan, target itu mengacu dari Pemilu 2024 yang partisipasinya mencapai 80 persen. Dia percaya bahwa target itu bisa tercapai dengan menyiapkan program yang terintegrasi.
“Harapan kita, karena Pilkada ini desainnya lokalisir, kembali KPU Sulsel menjadikan angka 80% itu merupakan angka capaian yang harus dicapai di Pilkada 2024 ini,” ujar Hasruddin Husain, Jumat (21/6) kepada wartawan.
Selain berpedoman dari Pemilu 2024, untuk pilgub dan pilkada kabupaten/kota ada program pendidikan pemilih berkelanjutan dan terintegrasi namanya di Grebeg.
“Ini sudah bisa disimpulkan dari KPU provinsi dengan KPU kabupaten/kota sampai dengan 313 kecamatan,” katanya.
“Sudah kita undang semua ke Makassar, semoga simpul-simpul internal ini mampu bekerja mentransformasi semua informasi dengan baik sampai dengan tingkat desa,” tambah Hasruddin.
Dia mengklaim program itu merupakan gagasan baru di Pilkada Serentak 2024.
Berbeda dengan pemilu sebelumnya dimana KPU kabupaten/kota merancang program sosialisasi masing-masing.
“Pilgub 2024 kali ini ada gagasan besar dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih berkelanjutan dan terintegrasi satu sama lain,” ujarnya.
Lanjut Hasruddin, program itu salah satunya lewat Cafe Demokrasi. Kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh 24 KPU kabupaten/kota di 313 kecamatan.
“Kami breakdown anggarannya dari KPU Sulsel turun ke kecamatan. Mendatangi kerumunan dalam cafe demokrasi memberi pendidikan politik.
Sebelumnya, KPU kabupaten/kota melakukan kegiatannya tersendiri, provinsi tersendiri, kecamatan tersendiri,” paparnya.
Hal lain yang di fokuskan, kata Hasruddin, yakni sosialisasi harus menyasar segmen pemilih pemula. Dari penelitian, generasi Z masih apatis terkait dengan politik.
“Melakukan upaya perubahan perilaku politik, seperti generasi Z agar tidak apatis terhadap politik. Selalu menjadi isu strategis bahwa pemilih pemula itu masih bersikap apatis untuk datang ke TPS,” ucap Hasruddin
“Simpul-simpul dari kelompok minoritas, seperti disabilitas kita memberi edukasi dan pembekalan politik agar mereka berpartisipasi di pilkada serentak 2024,” jelasnya.
Selanjutnya, KPU Sulsel juga merangkul kelompok minoritas. Kelompok itu juga akan diberi pendidikan tentang pembekalan politik itu sendiri.








