Johor Baru – Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, menegaskan bahwa warisan budaya Nusantara merupakan fondasi penting dalam membangun identitas bangsa di tengah berbagai perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung saat ini.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Andi Ima Kesuma saat menjadi salah satu narasumber pada Cultural Intelligence Forum: Shaping Future Libraries Through Heritage and Museum Innovation yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di Perpustakaan Raja Zarith Sofiah, Johor Bahru, Malaysia, Jumat (05/6).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Pustakawan 2026 dan dirangkaikan dengan Pameran Warisan Budaya Nusantara yang menghadirkan berbagai khazanah budaya dari kawasan Melayu-Nusantara.
Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, pustakawan, kurator museum, peneliti, dan pemerhati budaya untuk mendiskusikan berbagai strategi pelestarian warisan budaya melalui pendekatan inovatif, termasuk pemanfaatan perpustakaan dan museum sebagai pusat pengelolaan pengetahuan budaya.
Dalam pemaparannya, Prof. Andi Ima Kesuma menekankan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa artefak, manuskrip, atau benda-benda bersejarah, tetapi juga mencakup nilai-nilai sosial, tradisi, bahasa, sistem pengetahuan lokal, dan memori kolektif masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
“Warisan budaya Nusantara adalah fondasi identitas bangsa. Ketika masyarakat memahami sejarah dan budayanya, mereka memiliki pijakan yang kuat untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Sebagai antropolog yang banyak meneliti sejarah dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan, Prof Andi Ima Kesuma menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya bagaimana menjaga warisan budaya tetap lestari, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap relevan dan dapat dipahami oleh generasi muda.
Menurutnya, perpustakaan dan museum memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik yang tidak hanya menyimpan koleksi budaya, tetapi juga menghubungkan masyarakat dengan sejarah, nilai, dan identitas yang membentuk peradaban bangsa.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi objek yang disimpan di lemari arsip atau ruang pamer. Budaya harus dihidupkan melalui pendidikan, penelitian, dokumentasi, dan diseminasi pengetahuan agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Forum tersebut juga menghadirkan Mohd Azlan Hafiz bin Mohti, Kurator Muzium Diraja Abu Bakar Istana Besar Johor, serta sejumlah tokoh perpustakaan dan pelestarian budaya Malaysia.
Diskusi berlangsung dalam suasana yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dan lintas negara dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya kawasan Melayu-Nusantara.
Bagi Prof. Andi Ima Kesuma, hubungan historis dan budaya antara masyarakat di Indonesia dan Malaysia merupakan modal penting untuk memperkuat kerja sama dalam bidang penelitian, dokumentasi, dan pengembangan program pelestarian budaya.
Kesamaan akar budaya tersebut menjadi bukti bahwa warisan Nusantara merupakan kekayaan bersama yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Keikutsertaan Prof. Andi Ima Kesuma dalam forum internasional tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi akademisi UNM dalam diskursus global mengenai pelestarian budaya dan pengembangan peradaban berbasis pengetahuan.
Melalui forum semacam ini, pemikiran dan hasil kajian akademik dari Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya di era modern.
“Peradaban yang kuat selalu dibangun di atas kesadaran sejarah dan budaya. Karena itu, menjaga warisan budaya berarti menjaga masa depan bangsa,” tutupnya.






