FAO soal Keunggulan Pangan RI: Cadangan Beras Melimpah, Tidak Impor-Siap Ekspor

banner 300300

Jakarta – Laporan resmi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam edisi Food Outlook terbitan Juni 2026 menegaskan posisi kuat Indonesia di kancah pangan dunia.

Dokumen yang dikutip Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Minggu (21/6) menyebutkan bahwa Indonesia berhasil mencatat peningkatan jumlah stok beras sekaligus menjaga kestabilan harga di tingkat petani — pencapaian yang turut menjadi penopang utama kelancaran cadangan beras global.

banner 500350

Secara keseluruhan, FAO memperkirakan cadangan beras dunia pada akhir periode pemasaran 2026/2027 akan mencapai 213,8 juta ton. Angka ini merupakan yang tertinggi kedua dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Di dalamnya, kontribusi Indonesia sangat signifikan: stok nasional diproyeksikan mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026, dan berpotensi bertambah lagi menjadi 7,8 juta ton pada 2026/2027.

Kondisi ini membuka peluang luas bagi Indonesia untuk tampil aktif sebagai negara pengekspor beras di masa depan.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, memberikan penegasan langsung mengenai ketersediaan persediaan dalam negeri.

Hingga awal Juni 2026, Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai 5,2 juta ton — jauh melebihi kapasitas gudang resmi sebesar 3 juta ton.

Untuk mengakomodasi jumlah yang melimpah tersebut, pihak pengelola saat ini menyewa ruang penyimpanan tambahan sebesar 2,2 juta ton yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat produksi utama.

“Stok kita aman dan terjamin. Hal yang paling penting, sejak tahun 2025 hingga hari ini, pemerintah tidak lagi mengeluarkan izin impor beras konsumsi,” ujar Andi Amran Sulaiman di Istana Negara, Jakarta, pada 18 Juni 2026 lalu.

Kepada pihak yang masih meragukan kelimpahan persediaan, beliau mengundang masyarakat maupun pemangku kepentingan untuk turun langsung memeriksa kondisi di gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia.

Keberhasilan pengelolaan terlihat pula dari sisi stabilitas harga dan kendali laju inflasi. Sudah dua tahun berturut-turut, beras bukan lagi menjadi komoditas penyumbang utama kenaikan harga umum di masyarakat.

Angka inflasi beras terus menurun tajam: dari puncak 3,59 persen pada Mei 2024, turun menjadi 1,35 persen pada Juli 2025, dan tercatat hanya 0,38 persen pada Mei 2026.

Yang lebih penting, kestabilan harga tidak mengorbankan kesejahteraan petani. Sebaliknya, FAO mencatat bahwa harga yang terjaga justru menjadi dorongan kuat bagi petani untuk tetap memilih menanam padi dibandingkan beralih ke tanaman lain.

Pola positif ini tercatat terjadi di Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina — berbeda dengan kondisi di negara lain seperti Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand yang dilaporkan mengalami penurunan produksi.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat gambaran kemajuan ini. Pada Mei 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani Padi mencapai 147,97 — angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Sementara Indeks Nilai Tukar Petani untuk kelompok tanaman pangan berada di angka 113,79, yang juga merupakan titik tertinggi sepanjang tahun berjalan.

Dalam peta persaingan dunia, FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menduduki peringkat keempat dunia, setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.

Dari keempat negara penghasil utama tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan terus mencatat pertumbuhan produksi yang positif.

Jika dilihat dari laju peningkatan volume produksi antara periode 2024/2025 ke 2025/2026, Indonesia tampil sebagai negara dengan kenaikan paling gemilang — mencapai lebih dari 4 juta ton.

Angka ini jauh melampaui pertumbuhan India sebesar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, maupun Bangladesh 1,1 juta ton.

Di wilayah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, pencapaian ini diharapkan semakin memperkuat ketahanan pangan daerah, menjamin kelangsungan usaha tani, serta menjaga agar harga beras tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat di Makassar dan sekitarnya.

banner 500350

Tinggalkan Balasan