Dosen UMI Bantu Kembangkan Budidaya Daun Kelor, Dulu Sayur Kini Bertransformasi Jadi Jajanan

banner 300300

Maros – Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa terus dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yusriani, SKM., M.Kes.

Salah satu program unggulan yang dilaksanakan di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, adalah pengembangan Desa Sehat sebagai sentra edukasi kesehatan ibu dan anak. Program ini memanfaatkan integrasi teknologi Virtual Reality (VR) serta diversifikasi produk olahan daun kelor untuk mencapai tujuan tersebut.

banner 500350

Program ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing melalui pendekatan inovatif. Teknologi VR digunakan sebagai media edukasi interaktif yang memungkinkan ibu dan anak belajar tentang kesehatan dengan cara yang lebih menarik dan efektif. Materi yang disajikan dalam simulasi VR meliputi kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, manfaat daun kelor bagi ibu menyusui, kesehatan ibu nifas, serta nutrisi anak.

Tim Pengabdi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) berkolaborasi dengan dosen dari Universitas Megarezky untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Kader Kesehatan dan Kelompok Karang Taruna Bukit Kemuning. Melalui kegiatan Pemberdayaan Desa Binaan (PDB), mereka bersama-sama mengembangkan Desa Pucak menjadi desa sehat yang fokus pada edukasi kesehatan ibu dan anak berbasis teknologi VR dan produk olahan daun kelor.

Kegiatan ini melibatkan tim pengabdi yang terdiri dari Prof. Dr. Yusriani, SKM., M.Kes. (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat), Dr. Ir. Ida Rosada, M.Si. (Dosen Fakultas Pertanian), Dr. dr. H. Muh. Khidri Alwi, M.Kes. (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat), dan Dr. Rika Handayani, SKM., M.Kes. (Dosen Universitas Megarezky). Tim ini berkolaborasi dengan alumni dan mahasiswa dari Program Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan Masyarakat, serta mahasiswa Ilmu Komputer UMI. Bersama dengan Kelompok Kader Kesehatan dan Karang Taruna Bukit Kemuning yang dipimpin oleh Ibu Saharia dan Bapak Fathurrahman, mereka berkomitmen untuk memajukan Desa Pucak.

Sebagai bagian dari program ini, tim pengabdi bersama mahasiswa peminatan Promosi Kesehatan UMI Makassar menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan pencegahan stunting melalui edukasi dan pembuatan olahan makanan berbasis daun kelor. Menurut Prof. Dr. Yusriani, program PDB ini didukung oleh pendanaan tahun kedua dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, Teknologi, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kegiatan ini disosialisasikan kepada pemerintah serta masyarakat setempat untuk menjadikan Desa Pucak sebagai desa sehat yang menjadi sentra edukasi kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh kader posyandu, Karang Taruna Bukit Kemuning, serta mahasiswa UMI yang berpartisipasi dalam edukasi mengenai manfaat daun kelor yang kaya akan gizi, seperti vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Daun kelor dianggap sebagai sumber protein nabati yang dapat menjadi solusi efektif dalam melawan kekurangan gizi.

Selain edukasi, tim pengabdi dan mahasiswa UMI juga mengadakan pelatihan pembuatan berbagai olahan makanan berbasis daun kelor yang dapat dikonsumsi sehari-hari. Beberapa produk olahan yang diajarkan meliputi:

1. Stick Daun Kelor: Camilan sehat dan bergizi yang disukai oleh anak-anak dan orang dewasa.
2. Bolu Daun Kelor: Puding lezat dan kaya nutrisi dengan bahan-bahan alami.
3. Peyek Daun Kelor: Makanan ringan khas Indonesia yang diperkaya dengan daun kelor.
4. Kue Kering Kelor (Cookies Kelor): Camilan sehat dengan manfaat daun kelor yang kaya nutrisi.

Produk-produk ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan masyarakat tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi warga desa.

“Produk olahan daun kelor ini telah diverifikasi dan diakui kualitasnya, sehingga bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan bagi masyarakat desa,” ujar Prof. Yusriani.

Prof. Yusriani juga berharap bahwa pelatihan ini dapat memberdayakan masyarakat lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam, seperti daun kelor, dalam meningkatkan kesehatan dan mencegah stunting di Desa Pucak.

“Dengan edukasi yang tepat, kita bisa bersama-sama mencegah stunting di daerah ini,” tambahnya.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini sangat tinggi. Warga yang hadir juga diberikan kesempatan untuk menerima materi video tentang pengolahan daun kelor dan mencicipi hasil olahannya, sehingga mereka dapat dengan mudah mengaplikasikannya di rumah. Kegiatan ini didukung penuh oleh perangkat desa dan pihak Kecamatan Tompobulu.

Di akhir kegiatan, tim pengabdi dan mahasiswa UMI memberikan apresiasi atas partisipasi mitra. Diharapkan, hasil dari sosialisasi dan pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi, tetapi juga mendorong mereka untuk mulai memproduksi olahan makanan sehat dari daun kelor yang bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.

Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan desa di Indonesia. Dengan integrasi teknologi dan pemanfaatan sumber daya lokal, Desa Pucak diharapkan dapat terus berkembang menjadi desa yang sehat dan mandiri secara ekonomi.

Melalui kepemimpinan Prof. Dr. Yusriani, program ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan untuk mencapai desa yang lebih maju, sehat, dan sejahtera. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, dan rencananya akan terus dilaksanakan di berbagai daerah, khususnya di Sulawesi Selatan.

banner 500350

Tinggalkan Balasan