Banten Dicanangkan Jadi Pusat Ekosistem CPMI, Dibekali Vokasi-Sertifikasi Global

banner 300300

Banten – Program SMK Go Global diproyeksi mencetak tenaga kerja vokasi yang mampu bersaing di pasar internasional.

Banten dicanangkan menjadi pusat ekosistem calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) profesional melalui penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi global dan sistem penempatan kerja yang lebih terstruktur.

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla mendorong percepatan program SMK Go Global untuk mencetak tenaga kerja vokasi yang siap bersaing di pasar internasional.

Salah satu langkah yang ditempuh, yakni menjadikan Provinsi Banten sebagai pusat ekosistem PMI profesional.

Menurut Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah ini, daerah harus mulai bertransformasi tidak hanya sebagai pengirim tenaga kerja, tetapi juga sebagai penghasil pekerja migran yang kompeten dan berdaya saing global.

“Transformasi ini penting agar pekerja migran kita tidak lagi didominasi sektor domestik. Namun masuk ke sektor formal dengan keahlian yang diakui secara internasional,” ujar Dzulfikar kepada awak media, Rabu (15/4).

Program SMK Go Global dirancang untuk meningkatkan kualitas lulusan vokasi agar mampu menembus pasar kerja luar negeri. Khususnya, di sektor formal, seperti industri manufaktur, kesehatan dan perhotelan.

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyambut rencana itu dengan positif, provinsinya memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional dalam pengelolaan pekerja migran.

“Kita harus memastikan warga Banten yang bekerja ke luar negeri memiliki keahlian yang diakui dunia. Banten bukan sekadar daerah pengirim, tetapi bagian dari ekosistem PMI modern,” tegasnya.

Adapun langkah strategis antara KP2MI dan Pemerintah Provinsi Banten pun dibahas.

Di antaranya penyesuaian kurikulum SMK dengan standar global, penguatan sertifikasi internasional, hingga integrasi data untuk perlindungan pekerja migran sejak sebelum berangkat hingga kembali ke tanah air.

Selain itu, kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan sistem penempatan yang transparan dan aman.

Distribusi SDM Indonesia ke LN

Sebelumnya, Menteri P2MI Mukhtarudin menargetkan pemberangkatan 500 ribu PMI untuk periode 2026–2029 melalui program SMK Go Global.

Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kerja lulusan vokasi di pasar internasional.

“Ini program yang disampaikan bapak Presiden pada rapat kabinet 20 Oktober 2025. Kami telah mempersiapkan dan memberangkatkan 300 ribu lulusan SMK. Sementara 200 ribu lainnya berasal dari jalur umum,” ujar Mukhtarudin.

Dijelaskan, implementasi program ini telah berjalan melalui dua kategori, yakni jalur reguler dan direktif presiden. Untuk jalur reguler, sejumlah lulusan SMK telah ditempatkan di Bulgaria dan Jepang melalui skema Private to Private (P2P).

“Yang reguler sudah berjalan. Pada 24 Februari lalu, sekitar enam lulusan SMK diberangkatkan. Kemudian, pada 2 April, sebanyak 1.000 orang diberangkatkan ke Bulgaria khusus sektor hospitality dari Bali dengan skema private to private,” tuturnya.

Pemberangkatan juga menyasar sektor industri di Asia. Kemudian, pada 3 April 2026, sebanyak 200 orang diberangkatkan ke Jepang dengan skema P2P untuk sektor manufaktur kelistrikan dan food processing.

Untuk jalur direktif Presiden, kementerian fokus pada penguatan kelembagaan vokasi agar para peserta tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan, tetapi langsung masuk ke tahap penempatan kerja.

“Kami sudah menciptakan ekosistem sebagai upaya untuk mempersiapkan dari sisi hulu, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari sisi hulunya dalam pengembangan vokasi,” ucapnya.

Dalam pelaksanaannya, KP2MI bekerja sama dengan 12 kementerian/lembaga serta 12 migrant center.

Kerja sama juga mencakup sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin hingga Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta.

banner 500350

Tinggalkan Balasan