Diskusi Ekonomi JMSI Sulsel: Bank Indonesia-BRI Dorong Penguatan Digital UMKM

banner 300300

Makassar – Pelantikan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Sulawesi Selatan periode 2025–2030 akan berlangsung meriah dengan digelarnya Dialog Ekonomi bertema “Digitalisasi UMKM: Kesempatan bagi Perempuan” di Phinisi Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu (15/11).

Bank Indonesia Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi UMKM melalui digitalisasi dan penguatan kapasitas usaha secara end-to-end.

Upaya ini dipaparkan oleh Konsultan PUMKM Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Muhammad Syaiful, yang menjadi pemateri dalam diskusi.

Dalam pemaparannya yang komprehensif, Syaiful menjelaskan bahwa UMKM merupakan bagian strategis dari ekonomi nasional dan daerah, namun untuk naik kelas perlu intervensi program yang terukur, berkelanjutan, dan menghubungkan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.

Bank Indonesia menjalankan pembinaan berbasis kurikulum dan pendampingan intensif. Salah satu program utama adalah Rewako, yang dirancang untuk melahirkan UMKM Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgeable.

“Program ini tidak hanya memberi pelatihan, tetapi juga pendampingan strategi usaha, fasilitasi pasar, dan percepatan digitalisasi. Pendekatannya end-to-end dari inkubasi hingga akses pasar,” jelas Syaiful.

Melalui Rewako, telah tersertifikasi 152 UMKM binaan melalui empat angkatan pelatihan. Sementara perluasan program melalui Rewako Ekspor menghasilkan 100 UMKM alumni yang telah disiapkan untuk business matching dan perluasan jaringan pasar internasional.
Program pembinaan UMKM Bank Indonesia juga diikuti dengan pendampingan kesiapan ekspor.

Dalam materi presentasinya, Syaiful juga menyebut bahwa digitalisasi bagi UMKM tidak lagi bersifat opsional, tetapi wajib untuk memperkuat visibilitas, efisiensi, dan keberlanjutan usaha.

Ia menyebut tiga fase utama digitalisasi UMKM. Digital Presence yakni hadir di ruang digital dan mudah ditemukan, Digital Onboarding yakni terdaftar pada platform penjualan dan layanan keuangan, serta Digital Marketing menggunakan konten dan narasi untuk menciptakan brand dan loyalitas

“Digital presence itu bukan sekadar punya akun Instagram atau marketplace. UMKM harus bisa memastikan bahwa produknya ditemukan, dipahami, dan dipercaya,” tegasnya.

Menurutnya, strategi digital harus diikuti pendekatan storytelling, edukasi produk, dan pemahaman algoritma platform agar konten yang ditampilkan efektif menjangkau audiens.

Media Jadi Akselerator Transformasi UMKM
Dalam diskusi tersebut, Syaiful juga menggarisbawahi bahwa media memiliki peran besar dalam mempercepat digitalisasi UMKM melalui keberpihakan informasi dan ruang publik yang sehat.

“Media bukan hanya sarana publikasi, tapi bagian dari ekosistem transformasi UMKM. Media membantu meningkatkan visibilitas, membangun kepercayaan pasar, dan mempercepat literasi digital pelaku usaha,” ujarnya.

Bank Indonesia menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci percepatan transformasi, termasuk sinergi dengan pemerintah daerah, komunitas UMKM, pelaku ekspor, dan media.

Dari Literasi ke Akses Pasar

Materi presentasi juga menjelaskan bahwa Bank Indonesia menjalankan proses pembinaan berbasis tahapan, mulai dari pemetaan kualitas produk, edukasi usaha, pembentukan komunitas, hingga fasilitasi promosi perdagangan.

Pembinaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup pendampingan branding dan packaging, kurasi produk ekspor. digitalisasi pemasaran, internalisasi manajemen bisnis, dan business matching dengan buyer

Melalui program Rewako, digitalisasi pemasaran, dan fasilitasi ekspor, Bank Indonesia menegaskan bahwa penguatan UMKM adalah strategi jangka panjang untuk mendorong stabilitas ekonomi daerah dan nasional. “Harapan kami, UMKM Sulawesi Selatan bukan hanya kuat di tingkat lokal, tetapi mampu bersaing dan menembus pasar global. Itu hanya bisa dicapai melalui sinergi dan konsistensi,” tutup Syaiful.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari berbagai lembaga dan sponsor, termasuk BRI, Mandiri, RMS Foundation, Benteng Kupa Group, Bank Sulselbar, BTN, OJK Sulselbar, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, PLN, Pelindo, Kalla, KIMA, serta Hotel Claro Makassar sebagai tuan rumah.

Dukungan Himbara

Dalam diskusi tersebut, turut hadir Himpunan Bank Negara (Himbara) yakni, Bank Rakyat Indonesia (BRI) Regional Office Makassar.

Pihaknya menegaskan komitmen dalam mempercepat digitalisasi dan perluasan akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Selatan.

Pemaparan tersebut disampaikan Regional Micro Banking Head BRI RO Makassar, Iwan Supriyanto.

Iwan mengungkapkan bahwa BRI merupakan bank dengan jaringan layanan terluas di Sulsel, yang kini mencapai lebih dari 54.670 titik layanan, termasuk kantor cabang dan Agen BRILink yang menjangkau wilayah perdesaan hingga kepulauan.

“BRI tidak hanya hadir di kota, tetapi masuk ke desa untuk memastikan pelaku usaha mikro dan ultra mikro bisa mengakses layanan keuangan dengan mudah, cepat, dan terjangkau,” ujarnya.

Terkait pembiayaan, BRI mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Sulawesi Selatan telah mencapai Rp13,46 triliun kepada 302.190 debitur hingga akhir Oktober 2025. Penyaluran ini didominasi sektor usaha mikro dan tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Sektor pertanian tercatat sebagai penerima KUR terbesar, diikuti perdagangan dan jasa. Iwan menegaskan bahwa pelaku usaha yang belum memenuhi syarat KUR tetap dapat mengakses skema pembiayaan lain sesuai kapasitas usahanya.

Dalam upaya percepatan transformasi digital, BRI mencatat 186.677 pelaku UMKM Sulsel telah onboarding ke dalam ekosistem digital melalui platform LinkUMKM. Inisiatif ini diperkuat lewat program pendampingan dan pemberdayaan seperti Rumah BUMN, Desa Brilian, klaster usaha, penyuluh digital, hingga digitalisasi rantai pasok komoditas melalui platform Pari.

“Digitalisasi bukan hanya soal aplikasi. Ini soal perubahan perilaku bisnis. UMKM harus bisa memanfaatkan teknologi agar naik kelas,” tegas Iwan.

Untuk memastikan pelaku usaha berkembang secara terukur, BRI menerapkan model pembiayaan berjenjang mulai dari ultra mikro hingga komersial. Pola ini memungkinkan pelaku UMKM naik kelas sesuai perkembangan usahanya, mulai dari BPUM, Mekaar, KUR, Kupedes, hingga kredit komersial.

Iwan juga menyoroti bahwa tantangan terbesar UMKM saat ini bukan hanya permodalan, tetapi rendahnya literasi digital dan literasi keuangan. Banyak pelaku usaha belum terbiasa menggunakan pencatatan digital, pemasaran daring, dan layanan keuangan berbasis aplikasi.

“UMKM perlu dibantu memahami pasar digital, bukan hanya dikasih modal. Literasi sangat menentukan kemampuan mereka bertahan dan tumbuh,” katanya.

Melalui forum bersama JMSI Sulsel ini, BRI menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem UMKM di Sulawesi Selatan melalui layanan keuangan inklusif, pendampingan digital, dan pembiayaan berkelanjutan.

“Selama UMKM kuat, ekonomi daerah akan terus bergerak maju. Dan selama UMKM dilibatkan dalam ekosistem digital, mereka akan tetap relevan di masa depan,” tutup Iwan.

Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari berbagai lembaga dan sponsor, termasuk BRI, Mandiri, RMS Foundation, Benteng Kupa Group, Bank Sulselbar, BTN, OJK Sulselbar, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, PLN, Pelindo, Kalla, KIMA, serta Hotel Claro Makassar sebagai tuan rumah. (*)

banner 500350

Tinggalkan Balasan