Makassar – Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), Djaka Kusmartata, mengungkapkan derasnya arus informasi digital yang kerap memicu disinformasi, fitnah, dan opini menyesatkan di ruang publik, termasuk media sosial.
Menurutnya, berbagai peristiwa dengan mudah menjadi bahan spekulasi atau “gorengan” di era digital saat ini.
Meski demikian, ia tetap yakin bahwa mayoritas masyarakat masih memberikan dukungan terhadap tugas dan keberadaan Bea Cukai.
“Kala era digital, di era disinformasi, fitnah, dan kebencian, banyak informasi terutama yang online membanjiri semua peristiwa dan fenomena bisa menjadi bahan gorengan,” kata Kakanwil BC Sulbagsel, Jum’at (12/12).
Pihaknya sadar, kinerja tidak seratus persen memuaskan semua orang, tetapi dia yakin mayoritas masyarakat dari berbagai kelompok sosial dan golongan itu sangat mendukung keberadaan DJBC, termasuk di media sosial.
Berbicara di Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Djaka juga menyinggung tantangan komunikasi di dunia maya yang terkadang tidak menguntungkan bagi citra Bea Cukai.
“Meskipun kadang-kadang bahasanya, bagi Bea Cukai itu menjadikan kita lebih dalam kondisi yang kurang mendukung atau kurang menguntungkan, tetapi ini bukan menjadi masalah kita dalam lapangan.”
Ia menegaskan bahwa apa pun dinamika yang terjadi, tugas pokok Bea Cukai tetap menjadi hal yang ditunggu masyarakat.
Pelayanan, pengawasan, dan fungsi-fungsi lainnya, menurut Djaka, memiliki pengaruh besar bagi kehidupan sosial serta pertumbuhan ekonomi nasional.
“Karena apa pun yang kita jalani, fungsi tugas utama itu sangat ditunggu dan sangat dinantikan oleh masyarakat. Sehingga keberadaan kita, baik pelayanan, pengawasan, maupun tugas-tugas lainnya, tentu ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat secara umum maupun pertumbuhan ekonomi yang diharapkan oleh kita semua,” tegasnya.








