Makassar – Pengembangan pangan berbasis bahan alam memerlukan penelitian yang menghubungkan karakteristik senyawa bioaktif, aktivitas biologis, dan proses pengolahan.
Pemahaman terhadap keterkaitan tersebut penting untuk menilai potensi bahan hayati menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memastikan manfaat yang dikembangkan memiliki dasar ilmiah.
Persoalan ini merupakan bahasan kuliah tamu internasional Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (SPs Unhas) bertajuk “Pharmacological and Biofunctional Chemical Material Synergy for Retinoid-Carotenoid-Based Food Security and Competitiveness”.
Kegiatan dalam program Diaspora Berdampak 2026 tersebut menghadirkan Made Airanthi K. Widjaja Adhi dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat, untuk membahas hubungan farmakologi, biologi molekuler, dan senyawa bioaktif dalam pengembangan pangan.
Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni pada SPs Unhas, Prof. Dr. dr. Marhaen Hardjo, menyoroti pentingnya riset yang menghubungkan potensi senyawa bioaktif dengan karakteristik dan kebutuhan pengembangan produk pangan.
“Pengembangan pangan berbasis senyawa bioaktif membutuhkan pemahaman tentang karakteristik kimia bahan, aktivitas biologis, dan pengaruh proses pengolahan terhadap kestabilan senyawa. Kajian tersebut penting untuk mengidentifikasi potensi sumber daya hayati Indonesia dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah berdasarkan bukti ilmiah,” ujar Prof. Marhaen.
Dalam pemaparannya, Made Airanthi membahas retinoid dan karotenoid sebagai kelompok senyawa yang relevan dalam kajian farmakologi dan biofungsi. Penelitian terhadap senyawa tersebut memerlukan pemahaman mengenai karakteristik kimia serta interaksinya dengan sistem biologis untuk mengevaluasi potensi pemanfaatannya dalam pengembangan pangan dan produk berbasis bahan alam.
“Pengembangan produk berbasis senyawa bioaktif tidak cukup dilakukan dengan mengidentifikasi kandungan suatu bahan. Peneliti juga perlu mengevaluasi kestabilan senyawa selama pengolahan, aktivitas biologis berdasarkan metode pengujian yang sesuai, serta konsistensi hasil penelitian,” kata Made Airanthi.
Pembahasan tersebut berkaitan dengan peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia, termasuk sumber daya laut. Rumput laut, misalnya, dapat menjadi objek penelitian untuk pengembangan pangan dan produk bernilai tambah.
Potensi tersebut perlu dikaji melalui karakterisasi bahan, identifikasi senyawa, pengujian aktivitas biologis, serta evaluasi pengaruh metode pengolahan terhadap mutu produk.
Aspek pembuktian ilmiah juga merupakan perhatian dalam pengembangan bahan alam. Hasil pengujian laboratorium perlu ditafsirkan sesuai dengan metode, kondisi pengujian, dan ruang lingkup bukti yang tersedia.
Aktivitas antioksidan yang teridentifikasi melalui pengujian tertentu, misalnya, belum cukup untuk menyimpulkan efektivitas klinis atau manfaat kesehatan pada manusia.
Selain aspek ilmiah, pengembangan inovasi pangan berbasis bahan alam memerlukan keterhubungan antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan. Kolaborasi diperlukan untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan pengolahan, pengendalian mutu, keberlanjutan pasokan bahan baku, serta peluang penerapan produk.
Kuliah tamu internasional ini dipandu oleh Dr. Nur Rahma, dan diselenggarakan secara hibrida di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Unhas, serta melalui pertemuan Daring pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Melalui kegiatan ini, SPs Unhas memperluas kajian lintas disiplin mengenai senyawa bioaktif dan inovasi pangan.








