Makassar – Program Studi Teknik Mesin, Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik (FT) Universitas Hasanuddin memperluas jejaring riset dan kolaborasi internasional melalui The 3rd International Conference on Energy, Manufacture, Advanced Material, and Mechatronics (IC-EMAMM) 2026.
Kegiatan internasional ini digelar pada Sabtu (12 September 2026) di Fakultas Teknik Unhas, Kampus Gowa, bersamaan dengan Seminar Nasional Teknik Metalurgi dan Material ke-18 (SENAMM XVIII) tahun 2026.
IC-EMAMM 2026 mengusung tema “Driving Impactful and Sustainable Innovations through Engineering and Technology for Global Development”.
Sementara SENAMM XVIII mengangkat tema “Enhancing Technological Capability in Materials Science and Metallurgy through Indigenous Resource Utilization and Innovation”.
Ratusan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa turut hadir, berbagi pengetahuan dan hasil riset di bidang energi, manufaktur, material, dan mekatronika.
Ketua Panitia, Ir. Fauzan, menjelaskan bahwa konferensi ini menghadirkan narasumber dari berbagai negara sebagai bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kolaborasi riset.
5 keynote speaker hadir dalam konferensi ini, yakni:
1. Adnan Ibrahim dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Malaysia;
2. Mehmet Ali Güler dari American University of the Middle East, Kuwait;
3. Akbar Rhamdani dari Swinburne University of Technology, Australia;
4. Reza R. Jazar dari University of Toledo, Amerika Serikat;
5. Wei Linkui dari Huayou Indonesia Regional Center.
Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Kealumnian FT Unhas, Prof. Ir. Muhammad Bachtiar Nappu, mengatakan bahwa engineering memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan mesin. Bidang ini berperan dalam merancang solusi teknologi sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Konferensi ini penting sebagai ruang yang mempertemukan keahlian, riset, industri, dan jejaring global. Forum ini bukan sekadar tempat mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga membuka ruang untuk membangun koneksi dan menghasilkan kolaborasi baru,” kata Prof. Bachtiar.
Kebutuhan tersebut semakin relevan di tengah transisi energi menuju target net zero emission dan tantangan perubahan iklim. Berbagai persoalan tersebut membutuhkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Prof. Bachtiar juga mendorong keterlibatan dosen muda dan mahasiswa dalam forum internasional untuk memperluas jejaring serta menemukan peluang kolaborasi. Koneksi yang dibangun melalui konferensi dapat berkembang menjadi kerja sama riset dan pengembangan solusi teknologi di masa mendatang.
Dukungan terhadap penguatan kolaborasi riset disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Unhas, Prof. Ir. Suharman Hamzah.
Ia menyampaikan bahwa Unhas saat ini mendukung lebih dari 30 konsorsium riset dan memiliki sekitar 300 kelompok riset tematik.
“Ekosistem riset di Unhas dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan mitra nasional maupun internasional, termasuk dalam bidang material dan metalurgi,” kata Prof. Suharman.
Prof. Suharman juga menyinggung pengembangan Technology Research Group (TRG) Unhas yang berkaitan dengan bidang material dan metalurgi sebagai bagian dari penguatan kapasitas riset di lingkungan universitas.
Sementara itu, Ketua Badan Kerja Sama Pendidikan Metalurgi dan Material, Prof. Ir. Sungging Pintowantoro, menyoroti posisi strategis ilmu material dan metalurgi dalam perkembangan teknologi modern.
Dewasa ini, hampir seluruh sektor membutuhkan material dan teknologi manufaktur, mulai dari transportasi, elektronik, hingga berbagai kebutuhan industri.
“Dalam konteks Indonesia, pengembangan tersebut juga berkaitan erat dengan kekayaan sumber daya mineral. Potensi tersebut perlu diikuti dengan pengembangan teknologi dan inovasi agar sumber daya yang tersedia dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar,” kata Prof. Sungging.
Pengembangan material juga perlu diarahkan pada prinsip keberlanjutan melalui kolaborasi berbagai unsur dalam ekosistem pentahelix.
Dengan pendekatan tersebut, riset material dan metalurgi diharapkan dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.








