Makassar – Perkembangan teknologi membawa perubahan dalam cara manusia belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi lintas negara.
Namun, di tengah perubahan tersebut, bahasa, budaya, sejarah, dan pendidikan tetap memiliki peran penting dalam membangun pemahaman antarmasyarakat.
Perspektif tersebut merupakan bahasan dalam Konferensi Internasional Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (APSMI) ke-8 yang digelar Program Studi S1 Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), di Unhas Hotel and Convention, Rabu (16/9).
Konferensi mengangkat tema “Transformasi Humaniora di Tiongkok dan Indonesia pada Era Society 5.0: Bahasa, Sastra, Budaya, Sejarah dan Pendidikan”.
Forum ini mempertemukan akademisi, pengajar, dan pemerhati Bahasa Mandarin dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta sejumlah institusi luar negeri.
Ketua APSMI, Dr. Elly Romy, mengatakan konferensi ini adalah ruang untuk memperluas jejaring dan memperkuat kerja sama dalam pengembangan pendidikan Bahasa Mandarin.
“Melalui berbagai kerja sama, kita dapat membangun kekuatan yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan Bahasa Mandarin,” ujarnya.
Konferensi menghadirkan narasumber dari Indonesia dan mancanegara, yakni:
1. Dr. Carmelea Ang See dari De La Salle University, Filipina;
2. Dr. Chan Ying Kit dari National University of Singapore, Singapura;
3. Prof. Dr. Akin Duli, MA dari Universitas Hasanuddin;
4. Prof. Dr. R. Tuty Nur Mutia, S.S., M.Hum dari Universitas Indonesia;
5. Dr. Xi Lei dari Nanchang University, Tiongkok;
6. Chen Yan dari Confucius Institute of Poitiers, Prancis;
7. Assoc. Prof. Dr. Herman, B.Ed., M.TCSOL dari Universitas Universal, Indonesia;
8. Dr. Soen Ai Ling MA dari Universitas Darma Persada, Indonesia.
Penanggung Jawab Confucius Institute Universitas Hasanuddin, Prof. Wu Xiao Ling, dalam laporannya menyampaikan bahwa konferensi turut dihadiri pejabat pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tiongkok secara Daring.
Peserta yang hadir langsung mencakup pimpinan Dinas Pendidikan Kota Makassar, sinolog dari Singapura dan Filipina, akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta ketua dan perwakilan dosen Program Studi Bahasa Tiongkok dari lebih dari 30 perguruan tinggi.
Prof. Wu juga menyambut kehadiran tiga akademisi dari Universitas Nanchang, Jiangxi, Tiongkok, yakni Prof. Wang Shujun dari Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Xi Lei, dan Dr. Zhang Lingmei dari Fakultas Pendidikan Internasional.
Kehadiran akademisi dari berbagai negara tersebut memperluas ruang pertukaran pengetahuan dalam konferensi, sekaligus mempertemukan jejaring pendidikan Bahasa Mandarin, kajian Tiongkok, dan humaniora dari berbagai institusi.
Dalam arahannya, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, mendorong agar jejaring kerja sama yang telah dibangun dengan berbagai institusi di Tiongkok terus dikembangkan melalui kolaborasi.
Menurutnya, hubungan akademik Indonesia dan Tiongkok dapat diperluas melalui berbagai bidang, termasuk pembelajaran bahasa, sejarah, dan peradaban.
Pemahaman terhadap sejarah, kata dia, dapat memberikan pelajaran bagi generasi saat ini dalam melihat perkembangan suatu bangsa.
“Dengan belajar sejarah, kita dapat mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi,” ujar Prof. JJ
Ia juga menilai penguasaan Bahasa Mandarin memiliki peran penting dalam membuka ruang komunikasi dan kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Tiongkok.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Lestari Puspitaningsih, menyoroti posisi humaniora di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan kebudayaan perlu berjalan berdampingan. Humaniora tetap diperlukan untuk memastikan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan tetap mendapat tempat dalam perkembangan masyarakat di era Society 5.0.
Forum tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan MoU atau Perjanjian Kerja Sama antarlembaga.
Penandatanganan ini merupakan bagian dari penguatan hubungan kelembagaan dan jejaring akademik dalam pengembangan bahasa, pendidikan, dan kebudayaan.








