Dari Kampus ke Pesisir: Hasmyati Dorong Penanganan Stunting Berbasis Riset

banner 300300

Makassar – Persoalan stunting di wilayah pesisir Sulawesi Selatan dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis riset. Tidak hanya berkaitan dengan persoalan gizi, stunting juga dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, budaya, sanitasi lingkungan, hingga kondisi fisik rumah masyarakat pesisir.

Hal tersebut menjadi perhatian akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Hasmyati, melalui penelitian yang ia terbitkan di tahun 2025 mengenai faktor risiko kejadian stunting pada masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.

banner 500350

Penelitian tersebut menyoroti pentingnya pendekatan lintas sektor dalam upaya penanganan stunting, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini memiliki tantangan sosial dan kesehatan yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut, Hasmyati bersama tim menemukan bahwa faktor sosial ekonomi, budaya, sanitasi lingkungan, dan kondisi fisik rumah memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian stunting dan penyakit infeksi pada anak-anak pesisir.

“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Persoalan ini berkaitan dengan kualitas lingkungan hidup, pola pengasuhan, tingkat pendidikan keluarga, hingga kondisi ekonomi masyarakat,” demikian salah satu poin penting dalam hasil penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan explanatory research dan analisis Structural Equation Modeling (SEM) itu melibatkan 150 responden anak balita di wilayah pesisir Sulawesi Selatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa penyakit infeksi memiliki keterkaitan erat dengan stunting dan dapat memperburuk kondisi pertumbuhan anak apabila terjadi secara kronis.

Menurut Hasmyati, wilayah pesisir memiliki karakteristik sosial yang berbeda dibandingkan daerah perkotaan maupun daratan lainnya.

Keterbatasan akses sanitasi, lingkungan permukiman yang kurang sehat, hingga tingginya angka kemiskinan menjadi faktor yang memengaruhi kualitas kesehatan anak-anak di kawasan tersebut.

Karena itu, ia menilai perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada aktivitas akademik di ruang kelas semata, melainkan harus hadir melalui riset yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi harus mampu menjadi bagian dari solusi sosial. Riset harus berdampak dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan maupun edukasi masyarakat,” ujarnya.

Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan semangat kampus berdampak (impactful university) yang kini menjadi arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Melalui riset-riset berbasis kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan daerah.

Penelitian Hasmyati juga merekomendasikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat dalam membangun strategi penanganan stunting yang lebih holistik dan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas kepemimpinan perguruan tinggi, rekam jejak akademik dan kontribusi sosial dinilai menjadi salah satu indikator penting dalam membaca kapasitas seorang figur akademisi.

Melalui pendekatan riset yang berorientasi pada problem masyarakat, akademisi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi daerah dan masyarakat luas.

banner 500350

Tinggalkan Balasan

Baca Juga