Makassar – Pengurus Pusat Gema INTI (Generasi Muda Indonesia Tionghoa) menyampaikan keprihatinan mendalam atas kabar dugaan diskriminasi dan rasisme yang dialami oleh Cathlyn.
Cathlyn merupakan calon Paskibraka Nasional asal Makassar, yang diduga digugurkan karena latar belakang etnisnya.
Menanggapi itu, Ketua Umum PP Gema INTI Erfan Sutono menilai jiwa-jiwa rasisme ternyata masih bermukim di tanah air tercinta Indonesia. Pihaknya mengajak seluruh pihak untuk tidak terprovokasi dan menyebarkan informasi sesat untuk membentukan sesama anak bangsa.
“Peristiwa ini, jika benar terjadi, merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip keadilan, kesetaraan, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia. Tidak boleh ada ruang bagi perlakuan yang membeda-bedakan anak bangsa berdasarkan suku, ras, agama, atau latar belakang budaya,” kata Erfan Sutono dalam siaran resminya, diterima baca online id, Senin (25/5).
Tambah dia, setiap generasi muda Indonesia memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi, berprestasi, dan mengabdi untuk bangsa dan negara.
Diskriminasi dalam bentuk apa pun tidak hanya melukai individu yang bersangkutan, tetapi juga mencederai nilai persatuan dan semangat kebangsaan yang telah kita bangun bersama.
Oleh karena itu, GEMA INTI mendesak pihak terkait, khususnya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan instansi terkait lainnya untuk:
1. Melakukan klarifikasi terbuka dan investigasi menyeluruh atas dugaan diskriminasi yang terjadi.
2. Menjamin proses seleksi Paskibraka dilakukan secara transparan, objektif, dan tanpa diskriminasi.
3. Memberikan keadilan bagi Cathlyn dan memastikan haknya tidak dirampas karena perbedaan.
4. Menegaskan komitmen negara dalam melindungi seluruh warga negara dari segala bentuk rasisme dan diskriminasi.
Sebagai generasi muda, kami percaya bahwa masa depan Indonesia hanya dapat dibangun di atas landasan persatuan, kesetaraan, dan saling menghormati. Perbedaan adalah kekayaan bangsa, bukan alasan untuk membatasi kesempatan.
“Berbeda bukan alasan untuk dibedakan,” pungkas lelaki berlatar belakang dokter tersebut.
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan. Besar harapan kami agar seluruh pihak dapat menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen terhadap keadilan, kesetaraan, dan persatuan bangsa.








