Makassar – Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Megarezky menggelar workshop guna mendorong transformasi pembelajaran digital di tingkat SMA.
Kegiatan yang berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di SMA Amanah Nusantara Makassar ini berfokus pada pengembangan modul ajar Sosiologi berbasis Learning Management System (LMS) Odoo dan QR Code.
Ketua Tim PKM Universitas Megarezky, Hasanudin Kasim, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa program ini bertujuan memperkuat kapasitas pendidik agar dapat menghadirkan metode belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan adatif terhadap teknologi.
“Modul ajar digital harus dirancang bukan sekadar sebagai tempat menyimpan materi, tetapi sebagai ruang belajar yang memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan materi, sumber belajar, aktivitas, dan tugas secara lebih bermakna,” ujar Hasanudin, didampingi tim akademisi Andi Alviadi Nur Risal dan Dr. Sriwahyuni.
Workshop dua hari ini menghadirkan tiga narasumber dengan kepakaran berbeda:
Dr. Jalal, M.Pd. (Akademisi Pendidikan Sosiologi Universitas Megarezky) yang membedah konsep transformasi pembelajaran digital untuk menghubungkan teori Sosiologi dengan fenomena sosial di sekitar siswa.
Herwin, S.Pd. (Guru SMPN 2 Parigi, Gowa) yang memberikan pelatihan praktis pemanfaatan QR Code untuk menghubungkan modul dengan video, tautan tugas, dan materi pendukung.
Deddy Yusuf, S.Kom. (Praktisi IT Universitas Megarezky) yang mendampingi para guru secara teknis dalam mengelola dan merancang media ajar pada LMS Odoo.
Melalui integrasi LMS Odoo dan QR Code, para guru tidak hanya diajarkan menguasai aspek teknis, tetapi juga dilatih merancang ekosistem belajar digital yang terstruktur. Materi pembelajaran yang dipadukan dengan kode QR memudahkan siswa mengakses sumber belajar secara cepat langsung dari perangkat ponsel pintar mereka.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi guru di era digital.
“Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, program pendampingan ini diharapkan tidak berhenti di sini, tetapi terus diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari,” pungkas Hasanudin.









