Makassar – Sebuah pertanyaan sederhana kerap menghantui dunia akademik: setelah sebuah penelitian selesai dan hasilnya terbit di jurnal, ke mana pengetahuan itu pergi? Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks—mulai dari kesehatan masyarakat, perubahan iklim, hingga transformasi ekonomi—jawaban atas pertanyaan itu tidak lagi bisa “berhenti di laboratorium”. Riset kini dituntut menghadirkan solusi yang dapat diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat itulah yang belakangan dinilai semakin mengakar di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Hal ini tergambar dari keberhasilan sebelas periset Unhas menembus seleksi kompetitif dan memperoleh pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 11 Tahun 2026.
Cakupan riset yang lolos meliputi lintas bidang: kesehatan, farmasi, kehutanan, kecerdasan buatan, hingga ekonomi. Pendanaan ini menjadi modal penting bagi para peneliti untuk mengembangkan gagasan ilmiah menjadi solusi yang menjawab berbagai tantangan pembangunan melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Apa Itu RIIM dan Mengapa Penting
RIIM merupakan instrumen strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset nasional. Program ini dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, dengan dukungan Dana Abadi Penelitian yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan dirancang untuk mempercepat lahirnya penelitian yang berdampak.
Melalui skema ini, peneliti didorong inovasi, teknologi, model kebijakan, maupun solusi berbasis sains yang dapat diterapkan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Publikasi ilmiah tetap merupakan luaran wajib, sebagai standar minimal saja.
Pada Kompetisi Gelombang 11 Tahun 2026, penerima pendanaan ditetapkan melalui Keputusan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional Nomor 106/II.7/HK/2026.
Bagi peneliti Indonesia, skema RIIM adalah gerbang kompetitif yang menyeleksi gagasan berdasarkan kualitas ilmiah, kebaruan, dan potensi dampaknya di lapangan. Proses seleksi sangat ketat, sehinga tidak semua proposal mampu melewatinya.
Ketua LPPM Unhas: Riset untuk Bangsa
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, memandang capaian tersebut sebagai refleksi semakin kuatnya ekosistem riset di lingkungan Unhas.
Menurutnya, keberhasilan memperoleh pendanaan pada skema yang sangat kompetitif menunjukkan bahwa penelitian yang dikembangkan sivitas akademika tidak hanya memiliki kualitas ilmiah, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
“Pendanaan RIIM bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap proposal yang lolos seleksi. Yang lebih penting adalah bagaimana penelitian tersebut dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa arah riset Unhas semakin selaras dengan kebutuhan bangsa,” jelas Prof. Nasrum.
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, LPPM Unhas terus mendorong transformasi budaya riset di Unhas.
Peneliti tidak hanya diarahkan menghasilkan publikasi bereputasi, tetapi juga membangun penelitian yang berorientasi pada dampak (impact-driven research), memiliki peluang hilirisasi, serta dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, industri, maupun masyarakat luas.
Pendekatan tersebut tercermin dari beragam tema proposal yang berhasil memperoleh pendanaan RIIM Gelombang 11.
Penelitian yang didukung mencakup isu kesehatan, lingkungan, ekonomi hijau, teknologi manufaktur cerdas, peternakan presisi, kehutanan, hingga penguatan kebijakan publik.
Keberagaman tema tersebut menunjukkan kemampuan peneliti Unhas dalam memadukan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab tantangan pembangunan secara komprehensif.
Menurut Prof. Nasrum, persoalan pembangunan saat ini tidak lagi dapat diselesaikan melalui pendekatan satu disiplin ilmu.
Oleh karena itu, LPPM terus memperkuat kolaborasi lintas fakultas, lintas keilmuan, dan kemitraan dengan berbagai institusi agar setiap penelitian memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan.
“Riset harus menghasilkan pengetahuan baru, tetapi pada saat yang sama juga mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu kami terus mendorong kolaborasi yang mempertemukan berbagai keahlian sehingga solusi yang dihasilkan menjadi lebih komprehensif dan aplikatif,” tambah Prof. Nasrum.
Unhas: Dari Tujuh Proposal ke Sebelas Proposal
Keberhasilan tahun ini sekaligus menempatkan Universitas Hasanuddin dalam jajaran 10 perguruan tinggi penerima pendanaan RIIM Kompetisi Gelombang 11 Tahun 2026. Di balik sebelas proposal yang lolos tahun ini, terdapat proses panjang penguatan budaya riset di Unhas.
Data LPPM menunjukkan bahwa capaian pendanaan RIIM Unhas terus berkembang. Pada batch 10, jumlah proposal yang mendapatkan pendanaan sebanyak tujuh proposal, kemudian meningkat menjadi 11 proposal pada Batch 11.
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan Unhas bukanlah capaian yang bersifat insidental, melainkan hasil dari peningkatan kualitas riset, pembinaan peneliti, dan semakin matangnya kolaborasi ilmiah di lingkungan universitas.
Bagi LPPM Unhas, capaian ini menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dukungan pendanaan diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi yang tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga teknologi, model kebijakan, produk, maupun rekomendasi ilmiah yang dapat diadopsi dalam berbagai sektor pembangunan.
Prof. Nasrum menegaskan, keberhasilan memperoleh pendanaan RIIM bukanlah tujuan akhir. Ini adalah bagian dari proses panjang membangun budaya riset yang unggul dan berdampak.
Ke depan, Unhas akan terus memperkuat ekosistem penelitian yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga setiap penelitian yang dihasilkan benar-benar menjadi kontribusi nyata universitas dalam mendukung pembangunan Indonesia.
Direktorat Inovasi: Dari Gagasan Menuju Dampak
Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina, mengatakan keberhasilan tersebut mencerminkan daya saing riset para akademisi Unhas dalam kompetisi pendanaan nasional.
“Pendanaan RIIM memberi kesempatan bagi para peneliti untuk membawa gagasan ilmiah melangkah lebih jauh menjadi pengetahuan baru, teknologi, maupun inovasi yang bermanfaat. Kami berharap setiap riset yang didukung mampu menghasilkan luaran berkualitas, memperkuat kolaborasi, dan pada akhirnya memberi kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat,” kata Asmi Citra.
Unhas terus membangun ekosistem riset yang kompetitif melalui pendampingan penyusunan proposal, penguatan jejaring kolaborasi, serta percepatan hilirisasi hasil penelitian.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah riset unggulan yang mampu bersaing memperoleh pendanaan nasional maupun internasional sekaligus menghasilkan dampak yang lebih luas bagi pembangunan.
Sebelas Riset Penerima Hibah RIIM
1. Prof. dr. Andi Dwi Bahagia Febriani, Ph.D., Sp.A(K) — Paparan Mikroplastik di Awal Kehidupan: Studi Korelasi Antara Kelahiran Prematur dan Kelimpahan Partikel Mikroplastik dalam Feses Bayi Baru Lahir
2. Dr. Andi Kusumawati, S.E., M.Si., Ak., C.A. — Beyond Carbon Tax: Pengembangan dan Implementasi Model Eco-Incentive melalui Sinergi Industri-Pemerintah untuk Pembangunan Aset Karbon Daerah
3. drg. Erni Marlina, Ph.D., Sp.P.M., Subsp.Inf.Im.(K) — Inovasi Formulasi Film Mucoadhesive Terlarut Saliva Berbasis Gold-Nanopartikel sebagai Penghantar Zat Aktif Pandanus conoideus untuk Terapi Kanker Rongga Mulut
4. Prof. Dr. Gita Susanti, M.Si. — Model Penguatan Local Institutional Entrepreneurship dan Jaringan Organisasi Berbasis Komunitas (CBO) dalam Tata Kelola Diversifikasi Pangan Berkelanjutan untuk Pencegahan Stunting di Sulawesi Selatan
5. Dr. Herlina Rante, S.Si., M.Si., Apt. — Penemuan Senyawa Antibakteri dan Pengembangan Formula Emulgel Termosensitif Pelepasan Terkontrol Berbasis Metabolit Sekunder Bunga Syzygium aromaticum dalam Pengobatan Infeksi Akibat Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi
6. Prof. Dr. Ir. Indrabayu, S.T., M.T., M.Bus.Sys., IPM., ASEAN.Eng. — Prototype Conveyor Cerdas untuk Produk Hortikultura Di Proses Hilir
7. Dr. Jamila Mustabi, S.Pt., M.Si., IPM. — Inovasi Bio-Starter Rumen Berbasis Multi Omik untuk Efisiensi Nutrisi Presisi pada Kambing Perah
8. Dr. Kidung Tirtayasa Putra Pangestu, S.Hut., M.Si. — Perbaikan Mutu Kayu Hutan Rakyat Melalui Interkolasi Nanopartikel Bahan Pewarna Alami
9. Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., CRA., CRP., CWM. — Integrasi Fiscal Technology dan Human Capital pada Strategi Earmarking Pajak Daerah untuk Mitigasi Eksternalitas Lingkungan dan Akselerasi SDGs
10. Prof. Dr. Nunuk Hariani Soekamto, M.S. — Penelusuran Metabolit Sekunder Dari Makro Alga Sebagai Kandidat Antikanker
11. Yulia Yusrini Djabir, S.Si., MBM.Sc., M.Si., Ph.D., Apt. — Micro-Modular Array (μMA) sebagai Platform Microsampling untuk Point-of Care Transdermal Therapeutic Drug Monitoring (POC-tTDM) pada Pasien dengan Multiterapi Obat Antiepilepsi.
Daftar penerima pendanaan RIIM ini diserahkan secara resmi dalam sebuah kegiatan di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jumat (24/7).
Dokumen penetapan diserahkan langsung oleh Dr. Eng. Agus Haryono, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, dan diterima oleh Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina, yang hadir mewakili Rektor Unhas.









