Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Dr Ashabul Kahfi (AK) M.Ag menyoroti kebijakan aplikator transportasi online (grab/gojek/maxim cs) tentang kesejahteraan mitranya dalam hal ini drivernya.
Anggota fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai para drivers tidak cuma bersuara terkait upah dan bonus, melainkan relasi kerja terhadap mereka dan keberpihakan aplikatornya yang selama ini dianggap timpang.
“Saya memandang bahwa pihak aplikasi perlu segera merespons secara serius dan terbuka terhadap tuntutan para mitra pengemudi. Apa yang disuarakan oleh para driver bukan semata-mata soal tarif atau bonus, tetapi menyangkut keadilan dalam relasi kerja digital,” ujar Ashabul Kahfi dalam siaran tertulisnya, Senin (21/7) dibagikan ke baca online.
Mantan dosen di UIN Alauddin Makassar itu menganggap wajar, drivers mengungkapkan keresahannya sebab adalah tulang punggung keluarga, namun seringkali prinsip keadilan tidak berpihak kepada para drivers.
“Dalam konteks ini, saya melihat pentingnya penegakan prinsip perlindungan pekerja dalam ekosistem ekonomi digital. Kita tak boleh menutup mata bahwa para pengemudi adalah tulang punggung utama dalam layanan aplikasi transportasi, tetapi sering kali tidak mendapatkan posisi tawar yang adil,” pungkasnya.
Pihaknya, menyiapkan berbagai langkah mendorong pemerintah hadir lebih konkrit dan mengundang aplikator untuk mendengarkan keresahan drivers yang difasilitasi legislatif parlemen.
“Karena itu, saya mendesak pihak aplikator untuk segera duduk bersama perwakilan pengemudi dan menyepakati langkah konkrit, bukan sekadar pernyataan normatif. Komisi IX DPR RI siap memfasilitasi dialog tripartit antara pengemudi, aplikator, dan pemerintah guna mencari solusi yang adil, berkelanjutan, dan saling menguntungkan,” bebernya.
Terakhir, pihaknya bersama Komisi IX mendorong percepatan pengesahan regulasi perlindungan pekerja sektor informal digital, termasuk jaminan sosial, standar minimum kerja dan transparansi algoritma.
Menurut dia, Ini bukan soal menentang kemajuan teknologi, tapi soal memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam inovasi digital.









