Makassar – Dalam rangka memperingati 27 tahun Reformasi Indonesia, Rumah Aspirasi menggelar acara bertajuk “Brainstorming Reformasi Gelap”, sebuah forum reflektif yang digelar pada malam hari dengan nuansa kritis dan penuh simbolik.
Acara ini dibuka, Jum’at (23/5) lalu dengan penampilan teatrikal dari tiga mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi kecil di dalam forum.
Mereka membawa serta poster-poster dan undangan pertanyaan terbuka yang ditujukan kepada para mantan aktivis 1998.
“Kami mengajak para aktivis 98 untuk senantiasa tetap berada pada jalan keberanian,” seru salah satu orator dalam orasinya.
Agenda ini dimaksudkan sebagai bentuk inisiasi untuk merenung dan mengevaluasi kembali perjuangan reformasi yang telah bergulir sejak 1998.
Para mahasiswa menyampaikan kegelisahan mereka terhadap arah perjuangan yang, menurut mereka, hanya berhenti pada tahap reformasi tanpa berlanjut ke revolusi yang lebih mendalam.
“Kami berharap kalian, para aktivis 98, tidak hanya berhenti membawa bangsa ini sampai di gerbang reformasi,” ujar seorang mahasiswa dalam orasinya yang disambut riuh peserta.
Yang menarik, dalam sesi penyambutan, para mantan aktivis 98 tidak diberikan tempat duduk dan diminta untuk duduk melantai.
Aksi simbolik ini dianggap sebagai ekspresi kekecewaan dari generasi muda terhadap generasi sebelumnya yang dinilai belum tuntas menjalankan mandat perubahan.
Acara ini menjadi ruang terbuka yang menggugah, tempat generasi muda mempertanyakan ulang arah reformasi sekaligus memantik diskusi kritis lintas generasi.
Diskusi publik ini dihadiri para aktivis 1998 diataranya syawaludin Arief dari Universitas Hasanuddin Makassar, Anto dari Universitas Negeri Makassar dan wartawan senior AS Kambie serta beberapa tokoh masyarakat dan aliansi organisasi seperti Muhammadiyah dan HMI.







