Makassar – Kementerian Kebudayaan mengambil langkah signifikan dalam upaya memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia ke kancah global.
Melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, kementerian baru-baru ini membentuk Tim Promosi Sastra Indonesia.
Inisiatif ini diluncurkan dengan keyakinan kuat bahwa sastra adalah medium paling efektif untuk menyebarluaskan keragaman budaya dan nilai-nilai bangsa Indonesia secara masif di dunia internasional.
Pembentukan tim promosi ini diumumkan pada hari Jum’at (30/5), di Benteng Fort Rotterdam, tepatnya di Gedung Wisma, Makassar. Lokasi bersejarah ini menjadi simbol dari ambisi pemerintah untuk mengangkat warisan budaya Indonesia ke mata dunia.
Kementerian Kebudayaan meyakini bahwa sastra tidak hanya merepresentasikan keragaman wajah Indonesia, tetapi juga kekayaan nilai budaya serta tumbuh-kembangnya sebuah bangsa.
Oleh karena itu, produk dan aktivitas sastra dianggap sebagai medium paling mudah untuk disebarluaskan secara masif dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Tugas utama dari Tim Promosi Sastra Indonesia adalah merancang program strategis berupa proses diplomasi dan peningkatan kerja sama internasional di bidang sastra. Ini bertujuan untuk mewujudkan niat pemerintah meningkatkan peran aktif dan pengaruh Indonesia di tingkat global melalui jalur budaya.
Tim ini juga dibentuk untuk menjembatani dan memperkuat rantai ekosistem sastra yang sudah terbentuk sejauh ini. Rantai tersebut meliputi seluruh proses, mulai dari produksi, promosi, hingga diseminasi karya sastra baik di tingkat nasional maupun internasional.
Misa, Direktur Jenderal Promosi, Diplomasi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, menegaskan dukungan penuh terhadap festival sastra.
“MIWF [Makassar International Writers Festival] menjadi rumah bagi para pegiat sastra dan hal itu yang menjadi alasan Kemendikbud mendukung penuh festival ini,” ujarnya.
Misa juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan telah meluncurkan Dana Indonesiana. Program ini memiliki skema khusus yang didedikasikan untuk penerbitan buku, sebagai bukti konkret bahwa karya sastra diyakini mampu menjadi alat diplomasi budaya yang efektif.
Tidak hanya itu, untuk memperkuat posisi sastra Indonesia di kancah global, kementerian juga memberikan perhatian khusus pada peningkatan kapasitas penerjemah. “Kami juga punya kelas untuk para penerjemah sastra untuk mendukung karya-karya sastra dapat lebih populer secara global,” terang Misa.
Secara keseluruhan, Misa berharap ke depannya karya sastra Indonesia dapat menjadi karya global yang mampu membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
Visi ini mencerminkan ambisi besar pemerintah untuk menjadikan sastra sebagai kekuatan lunak yang memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya bangsa.
Zulfa, salah satu anggota Tim Promotor Sastra, berbagi strategi timnya dalam menjalankan misi ini. “Kami sudah mempromosikan berbagai karya Indonesia khususnya di Asia dan ke depannya diusahakan bisa global,” jelasnya, menunjukkan cakupan promosi yang terus meluas.
Zulfa memaparkan bahwa metode promosi mereka melibatkan partisipasi aktif dalam berbagai festival sastra, mengadakan rangkaian diskusi buku, serta melakukan peluncuran buku. “Kami mencari karya-karya terbaik yang ada di situ,” tambahnya, menunjukkan fokus pada kualitas karya.
Tim promotor juga menyampaikan harapannya bagi para penulis. “Kami selaku tim promotor juga berharap ke depannya para penulis memiliki kesempatan untuk dapat menerjemahkan karyanya agar dapat memiliki kesempatan naik ke panggung global,” ujar Zulfa, menekankan pentingnya terjemahan.
Harapan ini sejalan dengan pengalaman Ratih Kumala, penulis novel “Gadis Kretek” yang populer. Ratih mengungkapkan bahwa karyanya pertama kali diterbitkan dalam bahasa asing, yaitu di Jerman. “Hal itu menjadi awal di mana karya Indonesia memiliki audiens global,” jelas Ratih.
Ratih juga memberikan panduan penting bagi penulis yang ingin karyanya dikenal dunia. “Sebenarnya cara yang paling ampuh untuk menarik audiens global adalah menerjemahkan karya kita ke bahasa Inggris, karena tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Indonesia masih menjadi minoritas dalam bahasa global,” terangnya.
Keberhasilan terjemahan “Gadis Kretek” juga terbukti nyata. Ratih membocorkan bahwa karyanya dapat diadaptasi dan dilirik oleh Netflix karena sudah diterjemahkan. Hal ini menegaskan bahwa terjemahan adalah kunci utama untuk menembus pasar internasional dan memperluas jangkauan karya sastra Indonesia.








