Makassar – Menjelang penyelenggaraan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, MIWF mengadakan konferensi pers pada Rabu (28/5) di Chapel Fort Rotterdam, Makassar.
Konferensi ini secara resmi dibuka oleh M. Aan Mansyur, Direktur Program dan Kerja Sama Rumata’ Artspace.
MIWF merupakan salah satu agenda utama yang digagas oleh Rumah Budaya Rumata’—lembaga budaya indipenden yang sejak 2011 berperan aktif dalam memperkuat ekosistem seni dan literasi di Kota Makassar.
Selain menyediakan ruang terbuka yang dapat diakses oleh berbagai komunitas, Rumata’ dikenal dengan inisiatifnya yang telah memberi kontribusi penting bagi perkembangan kebudayaan di kawasan Indonesia Timur hingga kancah internasional.
Tahun ini, MIWF akan dilangsungkan pada 29 Mei hingga 1 Juni 2025 di Fort Rotterdam. Tak kurang dari 100 program disiapkan dalam festival yang telah berdiri sejak 2011 ini.
MIWF sendiri pernah dianugerahi International Excellence Award dari London Book Fair sebagai festival sastra terbaik tahun 2020.
Mengusung tema “Land and Hand”, MIWF 2025 mengajak publik untuk merenungkan dan merespons secara kolektif berbagai bentuk perampasan ruang hidup, pengusiran komunitas, eksploitasi lahan, hingga penghancuran ekologi yang masih berlangsung di berbagai wilayah. Festival ini menjadi medium alternatif untuk menyuarakan pengetahuan melalui pendekatan sastra, seni, dan budaya secara inklusif dan kontekstual.
Dalam paparannya, Aan Mansyur menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang para penulis, tetapi juga melibatkan berbagai bidang keilmuan dan seni.
“Yang tentu saja menghadirkan bukan hanya para penulis-penulis saja tapi akademisi, seniman, dari berbagai ranah,” ucap Aan Mansyur, Kamis (28/5) dalam konferensi pers.
Ia juga menambahkan bahwa festival tahun ini diramaikan oleh kehadiran narasumber dari berbagai negara. “Festival ini juga menghadirkan banyak pembicara dari berbagai negara, Malaysia, Belanda, Jepang, Amerika, dan Australia,” pungkas Aan Mansyur.
Sementara itu, Kurator MIWF 2025, Mariati Atkah, turut menyampaikan harapannya mengenai peran literasi dalam membentuk kebudayaan. “Begitu juga kita mengharapkan bagaimana kita bisa sama-sama memberdayakan literasi sebagai sarana budaya,” purna Mariati.








