Makassar – Seiring berjamurnya kuliner modern dari luar. Baik dari luar Sulawesi, maupun luar negeri. Putu Cangkir jajanan tradisional masih muda dijumpai di beberapa titik di Kota Makassar.
Jajanan ini terbuat dari beras Ketan dan menjadi adonan dengan campuran gula aren ditaburi kelapa muda. Teksturnya empuk, rasanya manis dengan khas warna coklat dan putih.
Hampir disukai kalangan masyarakat, hanya didapatkan mulai pukul 05.00-22.00 WITA terletak di jalan Andi Djemma, Kelurahan Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar atau tepatnya berhadapan Toko Eiger.
Penjualnya berkacamata dengan hijab, sedang mengukus di atas talang dengan corong panjang menutup kue putu saat ditemui wartawan baca online, Jum’at (01/8) malam.
Katanya, sebungkusnya dijual dengan harga Rp10.000, isi delapan cukup terjangkau untuk cemilan ringan yang bisa dinikmati saat nongkrong bareng teman atau keluarga.
“Cuma Rp10.000 pak isi 8 pcs,” pungkasnya.
Berjualan tak butuh waktu lama, suasana sepi, ditambah masih banyak masyarakat belum mengetahui kehadirannya di sana.
Meski termasuk jajanan sederhana, pedagang berjilbab identik kacamata kembali menekuni usaha berjualan Kue Putu Cangkir di tengah tren makanan viral.
Menekuni kembali usaha walau sempat berhenti, wanita berjilbab ini, menjadi saksi bahwa jajanan tradisional masih punya tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama saat menyentuh sisi emosional dan kenangan awal belajar membuat Kue Putu Cangkir hingga diminati kalangan atas, menengah dan kebawah.








