Makassar – Putra mendiang pendiri sekaligus Dewan Pembina Yayasan Darul Istiqamah (DI) Kh M Arif Marzuki, Muzayyin Arif soal aksi teror hingga membuat orang tua murid yang menempatkan anak mereka sekolah di SPIDI merasa tidak tenang.
Kendati demikian, penyerobotan dan pengambilalihan sekolah oleh pihak lain itu justru membuat solid orang tua murid di SPIDI dan SADIQ membantu pihak yayasan menjaga sekolah dari tindakan kekerasan.
“Pertama kami memohon maaf tidak hanya orang tua murid dan staf yayasan yang terganggu atas itu, tapi warga melintas ikut tergganggu. Namun yang luar biasa orang tua murid membantu kami tanpa diminta, itu juga membesarkan hati kami,” pungkas pihak Yayasan SPIDI-SADIQ, Muzayyin Arif, Jumat (11/9).
Muzayyin Arif yang secara khusus datang dari Arab Saudi berharap adanya pihak keamanan, sebab laporan yang dia terima ada sekelompok orang membangun kemah di depan sekolah untuk melakukan aksi teror.
Muzayyin juga menepis isu bahwa Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, ada di balik operasional SPIDI.
“Tidak benar dan tuduhan yang sangat keji bahwa Pak Tamsil Linrung adalah orang yang telah membeli tanah pesantren dan menjadi dalang dari konflik di internal pesantren. Tidak ada satu bidang pun tanah Pak Tamsil di kawasan tersebut dan tidak ada kepentingan Pak Tamsil dengan pesantren tersebut. Kecuali upaya membantu, itu pun ketika pesantren itu butuh dukungan dan bantuan beliau,” sambungnya.
Belakangan ini, imbuhnya, terjadi upaya pengambilalihan sekolah SPIDI oleh pimpinan Pesantren Darul Istiqamah secara paksa di luar koridor hukum positif yang berlaku. Upaya tersebut dinilai menggunakan narasi perjuangan dan wakaf umat yang manipulatif serta tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Muzayyin menegaskan bahwa pihaknya tidak menjual tanah wakaf. “Tidak ada satu pun tanah wakaf yang kami jual di pesantren. Kalau ada yang bisa membuktikan transaksi jual beli yang saya lakukan, maka saya siap bertanggung jawab,” katanya.
Muzayyin menjelaskan, betul ada tanah wakaf di Pesantren Darul Istiqamah. Namun tapi tidak semua kawasan pesantren itu adalah tanah wakaf. Banyak kepemilikan pribadi di kawasan tersebut. Ada juga yang murni milik lembaga, baik karena transaksi dengan pemilik awal, maupun karena transaksi dengan pimpinan pesantren pada waktu itu.
“Termasuk kawasan sekolah SPIDI, itu bukan tanah wakaf. Ini milik lembaga. Kalau ada yang bisa menghadirkan bukti secara autentik bahwa itu tanah wakaf dan itu salah, kami tutup sekolah tersebut. Tidak perlu melakukan tindakan kekerasan,” tambahnya.
Dia mengakui memang ada wacana pada tahun 2012 dari mendiang ayahnya KH M Arif Marzuki untuk mengembangkan Darul Istiqamah menjadi pesantren modern dan terintegrasi dengan kawasan hunian baru.
“Dan inilah oleh beberapa saudara kami ditentang. Bagi kami tidak masalah kalau tidak setuju. Sebab bagi kami, itu keinginan pimpinan pesantren. Itu sudah dibatalkan, tidak jadi diwujudkan. Sudah 10 tahun yang lalu kami sampaikan bahwa rencana tersebut dibatalkan. Kami heran kenapa sesuatu yang belum terjadi, bahkan sudah kami proklamirkan bahwa itu tidak dilanjutkan lagi, masih terus diangkat sebagai masalah?” ucapnya lagi.
Soal keberadaan SPIDI yang eksis namun dipersoalkan beberapa saudaranya, Muzayyin mengungkapkan bahwa sejauh ini jalur kekeluargaan telah ditempuh, termasuk mengundang para pihak untuk duduk bersama di hadapan ibu mereka, Andi Murni Badiu. Namun, ajakan dialog itu ditolak dan pihak pengelola Darul Istiqamah justru melanjutkan upaya pengambilalihan paksa.
Muzayyin menuturkan, meskipun menghadapi tekanan, pihak SPIDI menyatakan akan tetap bertahan. Muzayyin dan beberapa saudaranya yang lain berkomitmen melanjutkan amanah pendidikan dari orang tua serta umat demi menghidupkan pendidikan Islam yang berkemajuan.
Terakhir, Muzayyin mengungkap bahwa apa yang terjadi di Pesantren Darul Istiqamah Maccopa ini menjadi benang kusut bukan karena pertentangan keluarga. Melainkan juga fenomena dampak buruk ajaran Salafi Wahabi yang keras. Paham tersebut dibawa oleh adiknya, Mufassir Arif yang kini jadi pimpinan pesantren. Kehadirannya membuat Darul Istiqamah yang didirikan KH Ahmad Marzuki Hasan dan dilanjutkan KH M Arif Marzuki jadi berubah haluan dan menjauh dari khittah-nya.
Bagi Mufassir, kata Muzayyin, siapa pun yang tidak sepemahaman, dianggap sebagai musuh.
Makanya, Mufassir kerap memimpin aksi main hakim sendiri di pesantren. “Mufassir salah satu tokoh Salafi Wahabi Sulawesi Selatan,” pungkasnya. (*)








