Kisah Orang Tua Kecewa Nama Anak Hilang Daftar Lolos SPMB di Makassar saat Aplikasi Kembali On

banner 300300

Makassar – Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2025 dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) diwarnai kekecewaan orang tua calon murid.

Salah satu Orang Tua calon Murid di SD Negeri Mangkura Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar menyebut nama anaknya hilang sesaat laman spmb.makassar.go.id galat atau gagal sistem jelang pengumuman.

banner 500350

“Kami bingung sekali, pak. Anak saya sudah didaftar online dan urutan 32 terakhir saya cek tanggal 29 Juni 2025 jam 24 malam namanya masih ada dan naik ke urutan 31 dengan Skor 9.770 seharusnya lolos, tapi kok namanya tidak ada di daftar yang lulus ? Kalau begini, bagaimana kami bisa percaya dengan sistem ini?,” ujar salah seorang ibu calon siswa dengan nada kecewa kepada awak media pena nusantara news, Selasa (01/7).

Seharusnya, menurut dia, jika anaknya memiliki skor 9.770, namun yang menempati urutan 40 kelulusan justru mereka yang memiliki skor 9.761, seterusnya kelulusan nomor 41 dengan skor 9.733, kelulusan 42 dengan skor 9.724, kelulusan 43 skor 7.683 dan kelulusan 44 skor 7.616.

Dia tidak mempermasalahkan posisi anaknya turun dari nomor 39 karena disalip dengan anak yang memiliki 9.785, selama anaknya tetap lolos. Sayangnya, 39 ke atas merupakan skor lebih rendah dari anaknya.

Hal itu dia ungkapkan setelah pengumuman saat laman pengumuman spmb.makassarkota.go.id kembali aktif atau on. Pihaknya baru menyadari nama anaknya sudah hilang dalam daftar kelulusan.

Sementara salah seorang ibu calon peserta didik sekolah yang sama kesal sebab pengumuman kelulusan tidak disampaikan terbuka dan terkesan ada yang ditutup-tutupi.

“Seharusnya kan ada daftar nama-nama yang lolos ditempel di sekolah, biar semua orang tua tahu dan transparan. Ini kok cuma dikirimkan ke pribadi-pribadi saja? Ini jelas tidak benar,” pungkas.

Sebelumnya, Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Sulawesi Selatan menyoroti sistem penerimaan siswa baru berbasis online (PPDB SPMB) 2025 di Kota Makassar.

Ihwal sorotan tersebut, sebab Kota Makassar harusnya menjadi cerminan kemajuan sebuah daerah dari berbagai aspek. Namun, yang terjadi justru sebuah rasa khawatir bagi orang tua murid.

“Hal ini tidak boleh dianggap sepele, sebab ini meresahkan dan memicu kekhawatiran orang tua murid ini menciderai prinsip pelayanan dan jadi preseden buruk,” pungkas Munawir Mihsan kepada baca online, Senin (30/6) malam.

Kendati demikian, kejadian ini diharap menjadi evaluasi pimpinan Kota Makassar agar tidak terulang dan di masa mendatang.

banner 500350

Tinggalkan Balasan