Makassar – Limbah hasil hutan yang selama ini kerap diabaikan kini disulap menjadi produk bernilai jual tinggi.
Dosen Program Studi (Prodi) Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan inovasi berupa laminasi bambu terwarnai.
Inovasi ini mengombinasikan teknologi laminasi dengan pewarnaan sintetis untuk mendongkrak kualitas visual dan nilai ekonomi bambu.
Hasilnya, bambu yang tadinya sekadar limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan (handycraft) hingga berbagai produk kreatif.
Melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus, para dosen Unhas memboyong teknologi ini kepada masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan Unhas, Kabupaten Maros.
Dalam pelatihan tersebut, warga tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatannya. Antusiasme warga pun terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Prof. Dr. Ir. Andi Detti Yunianti, menyampaikan bahwa bambu laminasi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola secara terarah.
”Saya berharap masyarakat sekitar KHDTK Hutan Pendidikan dapat bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Unhas untuk menyiapkan bahan baku pembuatan handycraft dari laminasi bambu,” ujar Prof. Andi Detti.
Selain mendorong perekonomian warga, program pengabdian masyarakat ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Di antaranya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).
Adapun kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7) ini didukung penuh oleh pendanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas melalui Skim Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026.








