Makassar – (Catatan Kecil menjelang Musda KNPI Sulsel). Saudara-saudara seperjuangan, sesama pemuda pelanjut estafet pembangunan. Dalam semangat musyawarah untuk mufakat, kami menyampaikan suara hati yang mungkin juga menjadi kegelisahan banyak kader di akar rumput.
Berkaitan dengan pencalonan Ketua KNPI, kami dengan tegas menyatakan penolakan terhadap kandidat yang bukan asli putra daerah.
Penolakan ini tidak lahir dari sikap tidak suka atau prasangka pribadi. Ini adalah bentuk kecintaan dan komitmen kami untuk menjaga marwah dan kedaulatan daerah dalam wadah organisasi nasional. Berikut alasannya:
1. Pemahaman Kontekstual yang Lebih Mendalam
Seorang putra daerah telah hidup dan bernafas dalam denyut nadi budaya, dinamika sosial dan problematika unik daerah kita sejak lahir.
Ia tidak hanya memahami masalah dari laporan, tetapi merasakannya dalam keseharian. Kepemimpinan KNPI membutuhkan seorang nahkoda yang tidak hanya pandai membaca peta, tetapi juga yang tahu setiap lekuk pantai, karang terpendam, dan arus bawah laut di wilayahnya.
Pemahaman yang organik ini adalah modal dasar yang tidak tergantikan untuk merumuskan program yang tepat sasaran, bukan program yang “asal jadi” atau sekadar mengejar pencitraan.
2. Akuntabilitas dan Komitmen Jangka Panjang
Seorang putra daerah memiliki ikatan batin dan masa depan yang tak terpisahkan dengan daerah ini. Ia tidak akan pergi ketika tugasnya selesai. Ia akan tetap tinggal dan menanggung konsekuensi dari setiap kebijakan yang dibuatnya.
Ini menjamin akuntabilitas dan keberlanjutan program. Kita membutuhkan pemimpin yang investasinya nyata untuk kemajuan daerahnya sendiri, bukan yang mungkin akan meninggalkan kita untuk membangun karier di tempat lain.
3. Pemberdayaan dan Regenerasi Lokal
KNPI harus menjadi wadah untuk menumbuhkan dan menguji calon-calon pemimpin masa depan daerah. Jika posisi strategis selalu diberikan kepada pihak dari luar, kapan putra-putra terbaik daerah kita akan maju dan terlatih? Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa kita memiliki sumber daya manusia yang unggul dan mampu memimpin organisasi kita sendiri.
Memilih putra daerah adalah bentuk nyata dari pemberdayaan dan kepercayaan terhadap potensi lokal.
4. Menjaga Semangat Otonomi Daerah dan Kearifan Lokal
Semangat otonomi daerah mengajarkan kita untuk mengurus rumah tangga sendiri sebaik mungkin. Prinsip ini juga relevan dalam organisasi.
Seorang pemimpin dari daerah ini akan dengan luwes mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur masyarakat ke dalam strategi organisasi, sehingga KNPI tidak menjadi menara gading yang terpisah dari akar budayanya.
Kami tidak menutup mata bahwa kandidat dari luar mungkin memiliki kualitas individu yang baik.
Namun, kepemimpinan bukan sekadar tentang kompetensi teknis semata. Kepemimpinan adalah tentang pengabdian, pemahaman kultural, dan tanggung jawab moral untuk membangun tanah kelahirannya.
Oleh karena itu, mari kita bersatu padu. Dukung dan pilihlah putra daerah terbaik yang tidak hanya cakap secara organisasi tetapi juga memiliki jiwa dan loyalitas yang tak terbagi untuk kemajuan daerah kita tercinta.
Dengan demikian, KNPI akan benar-benar menjadi milik kita, lahir dari rahim ibu pertiwi, dan berjuang untuk masa depan anak cucu kita di sini.
Apa lagi kalau calon ketua KNPI itu belum pernah berdinamika di KNPI sama sekali dan tiba-tiba muncul sebagai calon ketua KNPI hanya karena dia adalah salah satu kader partai penguasa. Itu semakin mencederai proses panjang kader-kader OKP dan KNPI.
Bagaimana mungkin pucuk Pimpinan KNPI diberikan mandat kepada orang yang tidak pernah berproses di KNPI dan OKP!? Sebuah pertanyaan yang wajib kita jawab dengan gerakan kepedulian pemuda kepada wadah berhimpunnya!
Daerah Kita, Pemimpin Kita!
Penulis
Irfan Rahman (Calon Ketua DPK KNPI Kecamatan Mariso)









