Makassar – Anggota DPRD Sulsel, Andi Patarai Amir menyoroti sejumlah persoalan yang terjadi di Pemprov Sulsel saat Paripurna Penyerahan LHP BPK atas LKPD Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2024, pada Rabu (28/5).
Pasalnya, legislator Partai Golkar berharap pemeriksa dari BPK nantinya memperhatikan soal tata kelola dan mekanisme BLUD (Badan Layanan Usaha Daerah) Rumah Sakit di Sulsel.
Kata dia, mekanisme BLUD di RS saat ini harus melalui BKAD, Bappeda, dan Pengadaan Barang Jasa sehingga mengakibatkan keterlambatan pengadaan obat-obatan.
“Ini menjadi catatan bagi BPK untuk pemeriksaan berikutnya. Di tengah euforia kita dengan WTP yang diterima, bahwa di beberapa rumah sakit kita di Sulsel kekurangan obat,” kata Andi Patarai.
“Tadi pagi kami sidak rumah sakit, dan mereka mengakui ada keterlambatan distribusi obat-obatan. Kita ketahui bersama bahwa RS itu blud, nah kok tersendat mekanisme pengadaan obatnya,” tambahnya.
Dia menyebut, penerapan BLUD di RS pada dasarnya untuk memudahkan tata kelola penganggaran sehingga pelayanan bagi masyarakat bisa maksimal.
Namun perubahan sistem dan kebijakan dari Pemprov Sulsel ini, mengakibatkan masalah yang berdampak pada kurang maksimalnya pelayanan.
“Kita ketahui penerapan BLUD supaya anggaran bisa fleksibel, bisa setiap saat beli obat segala macam, tetapi kenyataan sekarang dia butuh mekanisme, harus ke Bappeda, harus ke Keuangan harus ke Barjas. Ini yg membingungkan kita, sementara RS kan BLUD,” jelasnya.
Legislator asal Kabupaten Maros itu menyebut, Komisi E DPRD Sulsel telah melakukan inspeksi dadakan (sidak) di RS, satu di antaranya adalah Labuang Baji.
Kata dia, hasil sidak menunjukkan bahwa pihak RS Labuang Baji mengakui adanya keterlambatan pasokan obat-obatan.
“RS yang disidak di Labuang Baji. Dan mereka mengakui bahwa memang ada keterlambatan pasokan karena perubahan sistem dan mekanisme yang ada,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, terdapat pula laporan dari pihak rumah sakit bahwa benang operasi juga habis. Alhasil, pelayanan bagi masyarakat terbilang tersendat.
“Ada laporan mau operasi katanya susah karena benang operasi habis. Dan ada juga beberapa obat yang betul-betul habis,” jelasnya.







