Chairman BIC Korsel Prof Kim Soo-Il Cerita Perjalanan 50 Tahun Bareng Indonesia

banner 300300

Makassar – Prof. Dr. Kim Soo-Il, Chairman Busan Indonesia Center (BIC) dan mantan diplomat Korea Selatan, membagikan perjalanannya bersama Indonesia dalam Guest Lecture bertajuk “Unlock Your Potential: Preparing for a Successful Future” di Ruang Senat Gedung Rektorat Unhas, Senin (21/9).

Selain sebagai akademisi, Prof. Kim pernah menjabat Duta Besar Korea Selatan untuk Timor Leste pada 2008–2009, Konsul Kehormatan Republik Indonesia di Busan pada 1993–2007, serta Perwakilan Kementerian Pariwisata Indonesia di Korea Selatan pada 2012–2016.

Dalam paparannya, ia mengajak mahasiswa untuk berani bermimpi sekaligus mempersiapkan masa depan melalui pendidikan, pengetahuan, kemampuan ilmiah, dan keberanian menangkap peluang.

Ia turut membagikan pengalaman menghadapi keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian dalam perjalanan hidupnya, yang tidak menghalanginya untuk terus belajar dan menekuni bidang yang dipilih.

“Hubungan antarmanusia merupakan salah satu unsur penting yang memperkuat relasi Indonesia dan Korea Selatan,” kata Prof. Kim.

Menurutnya, kemajuan Korea Selatan tidak terlepas dari investasi besar pada manusia dan pendidikan. Pendidikan membentuk sumber daya manusia yang berperan sebagai agen pembangunan.

Pesan ini dinilai relevan bagi Indonesia, terutama kawasan timur, yang memiliki potensi generasi muda besar dan perlu didukung melalui akses pendidikan, pengalaman internasional, serta jejaring akademik yang luas.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Kim Soo-Il sejalan dengan upaya Unhas membangun jembatan akademik antara Indonesia Timur dan Korea Selatan.

“Kita ingin mengoptimalkan hubungan Indonesia dan Korea sekaligus membangun jembatan akademik antara Indonesia Timur dengan Korea,” ujar Prof. JJ.

Unhas mendorong kerja sama dengan perguruan tinggi di Korea yang tidak hanya bersifat kelembagaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk memperoleh pengalaman akademik lintas negara. Salah satu peluang yang dikembangkan adalah program pertukaran mahasiswa, staf, dan peneliti.

“Yang membangun sebuah negara adalah manusianya. Karena itu, pendidikan harus ditempatkan di tempat yang paling atas. Anak-anak muda harus mempersiapkan kemampuan mereka untuk menghadapi masa depan,” tuturnya.

Prof. JJ juga menegaskan pentingnya generasi muda sebagai penghubung diplomasi melalui pendidikan, penelitian, dan kerja sama antarmasyarakat.

“Hubungan antara negara sangat membutuhkan orang-orang yang dapat memperkuat diplomasi ke depan. Kita perlu bekerja keras, bekerja cerdas, dan melihat peluang yang ada,” katanya.

banner 500350

Tinggalkan Balasan