Makassar – Warga Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kini bisa bernapas lega. Krisis air bersih yang membelit pemukiman pesisir tersebut bertahun-tahun lamanya akhirnya teratasi lewat program Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
BAZNAS resmi membangun sumur dan sistem perpipaan di Lorong Salekoa, RT 02/RW 03, Kelurahan Buloa. Fasilitas baru ini diresmikan langsung oleh Pimpinan BAZNAS RI, Hj Saidah Sakwan, pada Selasa (22/9).
”BAZNAS Kota Makassar hari ini meresmikan akses air. Mengapa akses air bersih ini penting? Karena ini daerah nelayan, akses air sangat kesulitan. BAZNAS menjadi prioritas pelayanan akses air bersih dengan membuat perpipaan,” ujar Saidah di lokasi peresmian.
Kawasan tersebut dihuni sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) yang didominasi warga berprofesi sebagai nelayan. Saidah menegaskan, penyediaan air bersih di wilayah pesisir menjadi fokus utama BAZNAS demi mendongkrak kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
”Kualitas kesehatan jadi lebih baik, aksesibilitas ibadah juga lebih baik. Mereka bisa wudhu, mereka bisa mencuci, dan juga memelihara anak-anaknya dengan kualitas air yang baik,” jelasnya.
Peresmian fasilitas ini turut dihadiri jajaran BAZNAS Kota Makassar seperti Ketua BAZNAS Makassar Dr H Usman Sofian, jajaran wakil ketua, hingga Sekretaris Camat (Sekcam) Tallo serta tokoh masyarakat setempat.
Beban Ekonomi Warga Terangkat
Kehadiran air bersih ini disambut antusias warga. Salah satu warga Buloa, Yanti, tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Usai acara peresmian, ia bersama warga lainnya langsung membawa ember dan baskom untuk menampung air segar dari keran.
”Terima kasih, hari ini sudah kedatangan dari tim BAZNAS untuk bantuan air wilayah Buloa… Karena selama ini di sini kekurangan, bahkan tidak ada air. Dengan adanya bantuan air bersih dari BAZNAS kami sangat senang,” ungkap Yanti.
Yanti bercerita, selama krisis air berlangsung, warga terpaksa merogoh kocek cukup dalam demi membeli air dari penjual keliling. Dalam sehari, satu keluarga bisa menghabiskan hingga tiga gerobak air.
”Kalau satu gerobak Rp 6.000, kalau tiga gerobak otomatis Rp 18.000 per hari. Itu baru untuk mandi dan kebutuhan lainnya, sementara untuk memasak harus membeli lagi,” tutur Yanti.
Mirisnya, warga juga masih dibebani tagihan bulanan PDAM meski air tak mengalir ke rumah mereka selama setahun terakhir. Pengeluaran ganda ini tentu membikin perekonomian keluarga nelayan makin menjerit.
”Jadi pengeluaran dua kali. Untuk mandi lain, untuk masak lain juga. Selama satu tahun ini kita tidak dapat air, tapi kita tetap bayar terus setiap bulan,” pungkasnya.
Kini, dengan mengalirnya air bersih dari BAZNAS, beban finansial warga Buloa dipastikan berkurang drastis. Warga pun berharap fasilitas perpipaan ini dapat terawat dengan baik agar manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang.







